PENDEKATAN DAN METODE PEMBELAJARAN PAI


MAMPU MERANCANG PENDEKATAN DAN METODE PEMBELAJARAN PAI
Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
Perencanaan Pembelajaran PAI
Dosen Pengampu:
Ahmad Fahroni, M.Pd.I


Disusun Oleh:
1.      Alfiyatur Rosyidah                  (932115217)
2.      Dina Wulan Arum                        (932117617)
3.      Salisa Rohmawatin                 (932123417)
4.      Muhammad Diky Agustina    (932128516)



Kelas F


JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) KEDIRI
2020
KATA PENGANTAR


            Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan kami kesehatan dan kesempatan sehingga dapat menyelesaikan makalah ini. Kemudian, sholawat serta salam juga senantiasa tercurahkan kepada Nabi Agung Muhammad SAW yang syafa’atnya masih terasa hingga detik ini. Demikian juga kami berterima kasih kepada :
1.      Bapak Ahmad Fahroni, M.Pd.I selaku dosen pembimbing
2.      Rekan-rekan kelompok yang telah bekerja sama menyelesaikan makalah ini.
Makalah ini bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah PERENCANAAN PEMBELAJARAN PAI. Kami menyadari sepenuhnya bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan juga banyak kekurangan, maka kami berharap tegur dan sapa dalam saran, evaluasi dan kritik, khususnya kepada dosen dan para pembaca semuanya. Semoga makalah ini bermanfaat dan dapat memperluas wawasan kita. Amin.









                                                                                    Kediri, 08 April 2020


Penyusun


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Dalam kegiatan belajar mengajar sangat diperlukannya interaksi antara guru dan murid yang memiliki tujuan. Agar tujuan ini dapat tercapai sesuai dengan target dari guru itu sendiri, maka sangatlah perlu terjadi interaksi positif yang terjadi antara guru dan murid. Dalam interaksi ini, sangat perlu bagi guru untuk membuat interaksi antara kedua belah pihak berjalan dengan menyenangkan dan tidak membosankan. Hal ini selain agar mencapai target dari guru itu sendiri, siswa juga menjadi menyenangkan dalam kegiatan belajar mengajar, serta lebih merasa bersahabat dengan guru yang mengajar.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian pendekatan pembelajan?
2.      Bagaimana metode pembelajan?
3.      Bagaimana pendekatan dalm PAI?
4.      Apa macam-macam pendekatan PAI?
5.      Bagaimana menentukan metode pembelajaran?



                                                  










BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Pendekatan Pembelajaran
Menurut Suprayekti seperti yang dikutip oleh Fauza Djalal dalam Jurnalnya[1] menyebutkan bahwa yang disebut dengan pendekatan pembelajaran adalah rancangan model yang digunakan dalam usaha mencapai target kurikulum dan disertai dengan tahapan-tahapan atau cara-cara yang harus ditempuh oleh guru guna mencapai tujuan itu.
Sedangkan menurut Ahmad Sudrajat masih dari sumber jurnal yang sama, mengatakan bahwa pendektan pembelajaran merupakan titik tolak atau sudut oandang seorang guru sewaktu proses pembelajaran , yang mengarah pada terjadinya proses pembelajaran secara umum, yang didalamnya mewadahi, menginspirasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran yang teoritis. Menurut Fauza Djalal, Pendekatan merupakan kerangka filosofis yang menjadi pijakan terhadap cara yang digunakan seorang guru untuk mencapai tujuannya seperti pendekatan yang humanis, liberal, teologis, quantum, dll.
Ada dua pendekatan pembelajaran yang dikenal yakni pendekatan konstruktivistik dan interaktif. Pertama, pembelajaran konstruktivistik dilandasi oleh faham konstruktivisme dalam filsafat. Faham ini memiliki konsep-konsep dasar, seperti hakikat pengetahuan, realitas dan kebenaran. Hakikat pengetahuan menurut faham ini adalah hasil dari konstruksi(bentukan) manusia. Pengetahuan tidak berumber dari luar akan tetapi dari dalam. Pengetahuan timbul dari konstruksi kognitif atas kenyataan melalui kegiatan manusi, yaitu pengalaman. Belajar merupakan proses aktif pembelajar atau pelajar dalam mengkonstruksi pengetahuan melalui pemaknaan teks, pemaknaan fisik, dialog, dan perumusan pengetahuan. Belajar merupakan proses mengasimilasi dan menghubungkan pengalaman atau bahan yang dipelajari dengan pengertian yang dimilkinya, sehingga pengertiaannya dikembangkan[2].
Pendekatan pembelajaran kedua adalah pendekatan pembelajaran interaktif, yaitu pendekatan yang dilakukan dengan berfokus pada pada pembelajar/pelajar, terpadu, individu, ketentuan, pemecahan masalah, berbasis pengalaman, peran guru sebagai fasilitator, dan berbasis perpustakaan. Berfokus pada pembelajar maksudnya adalah orientasi pembelajaran terfokus pada siswa, subjek pembelajaran adalah siswa, perbedaan dan kecepatan belajar siswa diperhatikan. Terpadu maksudnya adalah pengelolaan pembelajaran dilakukan secara terpadu, dan pembelajaran bermuara pada pencapaian kompetensi. Sedangkan pembelajaran individual maksudnya adalah pembelajaran dengan penekatan interaktif ini terdapat peluang untuk melakukan pembelajaran secara individual.
Berdasarkan pada paparan diatas makan dapat diketahui bahwa pendekatan pembelajaran adalah model atau gaya yang digunakan guru dalam usaha menyampaikan materi pembelajaran kepada peserta didik agar mencapai target pembelajaran. Sementara itu secara garis besar pendekatan pembelajaran terbagi menjadi 2, yakni pendekatan inquiri yang mengedepankan pengalaman dalam setiap pembelajaran dan pendekatan ekspositori yang menjadikan pemecahan masalah atau interaktif terkait materi pembelajaran sebagai cara utama dalam penyampaian isi materi.
B.     Metode Pembelajaran
Dalam dunia pendidikan terdapat beberapa macam metode mengajar, yang dalam penggunanya haru disesuaikan dengan berbagai hal, seperti situasi dan kondisi kegiatan belajar mengajar yang sedang berlangsung, fasilitas yang tersedia, dan sebagainya harus di sesuaikan dengan tujuan pendidikan yang hendak dicapai. Para pendidik tentu saja ingin senantiasa meningkatkan diri untuk meningkatkan mutu mengajar, serta menyampaikan bahan pengajaran kepada siswa sehingga mudah dipahami. Selain itu para pendidik ingin membuat proses pembelajaran menjadi fungsional, ini berarti seorang pendidik harus menguasai metode pembelajaran. Dalam didaktif khusus, yang di dalamnya terdapat beberapa teori tentang metode pembelajaran.
Metode merupakan suatu alat dalam pelaksanaan pendidikan, yakni yang digunakan dalam penyampaian materi tersebut. Materi pelajaran yang mudah pun kadang-kadang sulit diterima oleh peserta didik, karena cara atau metode yang digunakan kurang tepat. Namun, sebaliknya suatu pelajaran yang sulit akan mudah diterima oleh peserta didik, karena pemyampaian dan metode yang digunakan mudah dipahami, tepat dan menarik.[3]
Pembelajaran adalah proses interaksi antara peserta didik dan pendidik, antara  peserta didik dan sumber belajar lainya pada suatu lingkungan belajar yang berlangsung secara edukatif, agar peserta didik dapat membangun sikap, pemgetahuan dan keterampilanya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Proses pembelajaran merupakan serangkaian kegiatan yang mengandung perencanaan, pelaksanaan hingga penilaian. Sedang metode adalah “a way in acheiving something”.[4]
Menurut Sobri Sutikno metode pembelajaran adalah cara menyajikan materi pelajaran yang dilakukan oleh pendidik agar terjadi proses pembelajaran pada diri peserta didik dalam upaya untuk mencapai tujuan.[5]
Sedangkan metode pembelajaran Djamarah, dalam buku Muhammad Evendi dkk, adalah suatu cara yang dipergumakan untuk mencapai tujan yang telah ditetapkan, dalam kegiatan belajar mengajar, metode diperlukan oleh pendidik agar penggunanya bervariasi sesuai yang ingin dicapai setelah pengajaran berakhir.[6]
Jadi, metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara atau tahapan yang digunakan dalam berinteraksi anatar peserta didik dan pendidik untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sesuai dengan materi dan mekanisme motode pembelajaran. terdapat beberapa metode pembelajaran, diantaranya: ceramah, demontrasi, diskusi, simulasi, debat dan lain sebagainya. Selanjutnya metode pembelajaran dijabarkan ke dalam teknik dan gaya pembelajaran.
C.    Pendekatan Dalam PAI
Pendekatan pendidikan dapat diartikan sebagai suatu proses, perbuatan, dan cara mendekati serta mempermudah pelaksanaan pendidikan. Jika dalam kegiatan pendidikan, metode berfungsi sebagai cara mendidik, maka pendekatan  berfungsi sebagai alat bantu agar penggunaan metode tersebut mengalami kemudahan dan keberhasilan. Selain metode-metode memiliki peranan penting dalam kegiatan pendidikan Islam, pendekatan-pendekatan juga menempati posisi yang berarti pula untuk memantapkan penggunaan metode-metode tersebut dalam proses pendidikan, terutama proses belajar mengajar. Pendekatan dalam  pendidikan Islam merupakan suatu cara untuk mempermudah dalam kelangsungan belajar mengajar.
D.    Macam-Macam Pendekatan PAI
1.      Pendekatan psikologis
Yang tekanannya diutamakan pada dorongan- dorongan yang bersifat persuasif dan motivatif, yaitu suatu dorongan yang mampu menggerakan daya kognitif (mencipta hal-hal baru), konotatif (daya untuk berkemauan keras), dan afektif (kemampuan yang menggerakkan daya emosional). ketiga daya psikis tersebut dikembangkan dalam ruang lingkup penghayatan dan pengamalan ajaran agama di mana faktor-faktor  pembentukan kepribadian yang berproses melalui individualisasi dan sosialisasi bagi hidup dan kehidupannya menjadi titik sentral  perkembangannya.
2.      pendekatan sosial-kultural
Yang ditekankan pada usaha pengembangan sikap pribadi dan sosial sesuai dengan tuntutan masyarakat, yang berorientasi kepada kebutuhan hidup yang semakin maju dalam berbudaya dan berperadaban. Hal ini banyak menyentuh permasalahan-permasalahan inovasi ke arah sikap hidup yang alloplastis (bersifat membentuk lingkungan sesuai dengan ide kebudayaan modern yang dimilikinya),  bukannya bersifat auto plastis (hanya sekedar menyesuaikan diri dengan lingkungan yang ada).
3.      Pendekatan religi
Yakni suatu pendekatan yang membawa keyakinan (aqidah) dan keimanan dalam pribadi anak didik yang cenderung ke arah komprehensif intensif dan ekstensif (mendalam dan meluas). Pandangan yang demikian, terpancar dari sikap bahwa segala, ilmu pengetahuan itu  pada hakikatnya adalah mengandung nilai-nilai ke- Tuhanan. Sikap yang demikian harus di internalisasikan (dibentuk dalam pribadi) dan dieksternalisasikan (dibentuk dalam kehidupan di luar diri pribadinya.
4.      Pendekatan historis
yang ditekankan pada usaha pengembangan  pengetahuan, sikap dan nilai keagamaan melalui proses kesejarahan. Dalam hubungan ini penyajian serta faktor waktu secara kronologis menjadi titik tolak yang dipertimbangkan dan demikian pula faktor keteladanan merupakan proses identifikasi dalam rangka mendorong penghayatan dan  pengamalan agama.
5.      Pendekatan komparatif
Yaitu pendekatan yang dilakukan dengan membandingkan suatu gejala sosial keagamaan dengan hukum agama yang ditetapkan selaras dengan siatuasi dan zamannya. Pendekatan komparatif ini sering diwujudkan dalam bentuk komparatif studi, baik di bidang hukum agama maupun juga antara hukum agama itu sendiri, dengan hukum lain yang berjalan, seperti hukum adat, hukum pidana/perdata, dan lain-lain.
6.      Pendekatan filosofis
Yaitu pendekatan yang berdasarkan tinjauan atau  pandangan falsafah. Pendekatan demikian cenderung kepada usaha mencapai kebenaran dengan memakai akal atau rasio. Pendekatan filosofis sering dipergunakan sekaligus dengan pola berpikir yang rasional dan membandingkan dengan pendapat-pendapat para ahli filsafat dari berbagai kurun zaman tertentu beserta aliran filsafatnya.
7.      Pendekatan emosional
Adalah suatu usaha untuk menggugah perasaan atau emosi siswa dalam meyakini,, memahami, dan menghayati ajaraan agama. Metode yang digunakkan : ceramah, cerita, dan sosiodram.[7]Setiap guru atau pendidik selalu berusaha untuk membakar semangat anak didiknya dalam melaksanakan ajaran-ajaran agama yang sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an. Memberi sentuhan rohani kepada anak didik diyakini sangat besar kontribusinya dalam memicu dan memacu semangat mereka dalam beribadah dan menuntut ilmu.[8]
8.      Pendekatan rasional
Akal atau rasio memang mempunyai potensi untuk menaklukkan dunia. Tetapi jangan sampai mempertuhankan akal. Karena hal itu akan menggelincirkan keimanan terhadap ajaran agama. Sebaiknya, akal dijadikan alat untuk membuktikan kebenaran ajaran-ajaran agama. Dengan begitu, keyakinan terhadap agama yang dianut bertambah kokoh.
E.     Menentukan Metode Pembelajaran PAI
Pendidikan agama Islam adalah upaya sadar yang dilakukan pendidik dalam mempersiapkan peserta didik untuk meyakini, memahami, dan mengamalkan ajaran Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran atau pelatihan yang telah direncanakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.[9]
Secara definitif, metode pembelajaran adalah suatu cara atau jalan yang ditempuh yang sesuai dan serasi untuk menyajikan suatu hal sehingga akan tercapai suatu tujuan pembelajaran yang efektif dan efisien sesuai dengan yang diharapkan.[10]
Abdul Majid mengemukakan jenis-jenis metode pembelajaran yang sudah populer dan biasa digunakan oleh guru dalam kegiatan pembelajaran. Di antara jenis-jenis metode tersebut seperti:
a.       Metode ceramah, Metode ceramah adalah metode yang bisa dikatakan tradisional karena sejak dulu metode ini telah dipergunakan sebagai alat komunikasi lisan antara guru dan anak didik dalam proses belajar mengajar. Meski metode ini lebih banyak menuntut keaktifan guru kepada anak didik, tetapi metode ini tidak bisa ditinggalkan begitu saja dalam kegiatan pembelajaran[11].
Kelebihan metode ceramah:
·         Dalam waktu relatif singkat dapat disampaikan bahan sebanyakbanyaknya.
·         Organisasi kelas lebih sederhana, tidak perlu mengadakan pengelompokan murid-murid seperti metode yang lain.
·         Guru dapat menguasai seluruh kelas dengan mudah, walaupun jumlah  cukup besar.
Kekurangan metode ceramah:
·         Guru sulit mengetahui pemahaman anak terhadap bahan-bahan yang diberikan.
·         Terkadang guru sangat mengejar penyampaian bahan sebanyak-banyaknya.
·         Apabila penceramah tidak memperhatikan segi psikologis dan didaktis dari anak didik, ceramah dapat bersifat melantur-lantur dan mebosankan. Sebaliknya guru dapat terlalu berlebih-lebihan berusaha membangkitkan minat/ perhatian dengan jalan humor, sehingga inti dan isi ceramah menjadi kabur.
b.      Metode tanya jawab,  Metode tanya jawab adalah suatu cara mengajar dimana guru mengajukan beberapa pertanyaan kepada siswa tentang materi yang sudah, sedang, dan atau yang akan dipelajari sambil memperhatikan proses berfikir siswa. Metode tanya jawab dapat dinilai sebagai metode yang tepat dalam rangka meninjau ulang pelajaran atau ceramah yang lalu, agar siswa memusatkan lagi perhatian pada jenis dan jumlah kemajuan yang telah dicapai sehingga mereka dapat melanjutkan pelajaranya, menyelingi pembicaraan agar tetap mendapatkan perhatian.siswa, atau dengan kata lain untuk mengikutsertakan mereka, serta mengarahkan pengamatan dan pemikiran mereka.[12]
Kelebihan metode tanya jawab:
·         Situasi kelas akan lebih hidup, karena anak didik akan lebih aktif berfikir dan menyampaikan pemikirannya dengan berani berbicara ataupun menjwab pertanyaan.
·         Sangat positif sekali untuk melatih anak agar berani mengemukakan pendapat lisan dengan secara teratur.
Kelemahan metode tanya jawab:
·         Kurang dapat secara cepat merangkum bahan/ materi pelajaran.
·         Apabila terjadi perbedaan pendapat akan memakan banyak waktu untuk menyelesaikannya
c.       metode resitasi,  Metode resitasi atau pemberian tugas yang menekankan pada interaksi belajar mengajar yang ditandai dengan adanya tugas dari guru PAI yang dikerjakan oleh peserta didik di dalam kelas maupun di luar kelas dalam lingkup sekolah.[13]
Metode resitasi mempunyai kelebihan dan kelemahan dalam proses belajar mengajar. Adapun kelebihan metode resitasi adalah anak menjadi terbiasa mengisi waktu luangnya, memupuk rasa tanggung jawab, melatih anak berfikir kritis, tekun, giat dan rajin. Sedangkan kelemahan metode resitasi antara lain : tidak jarang pekerjaan yang ditugaskan itu diselesaikan dengan jalan meniru, karena perbedaan individual anak tugas diberikan secara umum mungkin beberapa orang diantaranya merasa sukar sedang yang lain merasa mudah menyelesaikan tugas itu dan apabila tugas sering diberikan maka ketenangan mental pada peserta didik terpengaruh.[14]
d.      metode drill (latihan), Metode drill merupakan suatu metode yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk melatih melakukan sesuatu keterampilan tertentu berdasarkan penjelasan atau petunjuk guru. Ciri khas dari metode ini adalah kegiatan yang berupa pengulangan yang berkali-kali supaya asosiasi stimulus dan respons menjadi sangat kuat dan tidak mudah untuk dilupakan. Dengan demikian terbentuklah sebuah keterampilan (pengetahuan) yang setiap saat siap untuk dipergunakan oleh yang bersangkutan.[15]
kelebihan metode drill:
·      pengertian peserta didik lebih luas melalui latihan berulang-ulang.
·      peserta didik siap menggunakan keterampilannya karena sudah dibiasakan.
kekurangan metode drill:
·      dapat menyebabkan kebosanan
·      dapat mematikan kreasi peserta didik menimbulkan verbalisme  (mengetahui kata-kata atau secara lisan akan tetapi tidak mengetahui makna atau arti dari pelajaran yang diterimanya)[16]
e.       Metode diskusi, Metode diskusi adalah cara penyajian dimana siswa siswi dihadapkan kepada suatu masalah yang bisa berupa pernyataan atau pertanyaan yang bersifat problematis untuk dibahas dan dipecahkan bersama, di dalam diskusi ini proses belajar mengajar terjadi interaksi antara dua atau lebih yang terlibat saling tukar menukar pengalaman, informasi untuk memecahkan sebuah masalah, diskusi ini bisa dilakukan dengan berbagai bentuk antara lain seminar, diskusi panel, simposium dan lain lain.[17]
Kelebihan metode diskusi:
·           Suasana kelas lebih hidup, sebab anak-anak mengarahkan perhatian/pikirannya kepadamasalah yang sedang didiskusikan, partisipasi anak dalam metode ini lebih baik.
·           Kesimpulan hasil diskusi mudah dipahami anak, karena anak-anak mengikuti proses berpikir sebelum sampai kepada suatu kesimpulan.
·           Anak-anak dilatih belajar mematuhi peraturan dan tata tertib dalam  suatu diskusi sebagai latihan musyawarah.
Kekurangan metode diskusi:
·           Kemungkinan ada anak yang tidak ikut aktif, sehingga bagi anak-anak ini, diskusi  merupakan kesempatan untuk melepaskan diri dari tanggung jawab.
·           Sulit menduga hasil yang dicapai, karena waktu yang dipergunakan untuk diskusi cukup panjang.
f.       metode role playing, metode role playing merupakan suatu cara yang digunakan pendidik dalam melakukan kegiatan belajar mengajar yang berusaha mengajak peserta didik untuk berpartisipasi aktif dalam pembelajaran dengan memainkan suatu peran yang menuntut peserta didik agar menghayati dan memahami peran yang dimainkannya.
Kelebihan metode role playing:
·      Melatih peserta didik untuk mendamatisasikan sesuatu serta melatih keberanian.
·      Peserta didik dapat menghayati suatu peristiwa, sehingga mudah mengambil keputusan berdasarkan penghayatannya sendiri.
·      Untuk mengajar peserta didik agar bisa menempatkan dirinya diantara orang lain[18]
Kekurangan metode role playing:
·      Banyak menyita waktu atau jam pelajaran
·      Kadang-kadang pserta didik keberatan untuk melakan peranan yang di berikan karena alasan psikologi, seperti rasa malu peran yang diberikan kurang cocok dengan minatnya, dan sebagainya
·      Memerlukan persiapan yang teliti dan matang
g.      Metode demonstrasi, Metode demonstrasi adalah cara penyajian bahan dengan memperagakan atau mempertunjukkan kepada anak didik, atau  proses situasi, atau benda tertentu yang sedang dipelajari baik sebenarnya ataupun tiruan yang sering disertai dengan penjelasan lisan.[19]
Kelebihan metode demonstrasi:
·      Memberikan pengalaman yang bersifat praktis sehingga siswa lebih mudah memahami suatu konsep.
·      Siswa bisa langsung mendapat jawaban dari guru terhadap pertanyaanpertanyannya yang kemungkinan besar menjadi faktor penghambat siswa memahami suatu materi.
Kekurangan metode demonstrasi:
·      Memerlukan alat peraga yang terkadang tidak mudah dijumpai atau relatif mahal.
·      Terkadang terdapat sejumlah alat peraga yang tidak memungkinkan untuk dibawa ke kelas.
·      Metode sulit digunakan apabila siswa sebelumnya tidak memahami dasar teorinya.
Banyak metode yang bisa dipilih oleh seorang guru dalam kegiatan belajar mengajar. Oleh karena itu setiap guru yang akan  mengajar diharapkan untuk memilih metode yang baik. Karena baik dan tidaknya suatu metode yang akan digunakan dalam proses belajar mengajar terletak pada ketepatan memilih suatu metode sesuai dengan tuntutan proses belajar mengajar.
Penggunaan suatu metode pembelajaran yang baik harus memperhatikan beberapa hal  berikut:[20]
1)   Metode yang digunakan dapat membangkitkan motif, minat atau gairah belajar murid.
2)   Metode yang digunakan dapat menjamin perkembangan kegiatan  kepribadian murid.
3)   Metode yang digunakan dapat memberikan kesempatan kepada murid untuk mewujudkan hasil karya.
4)   Metode yang digunakan dapat merangsang keinginan siswa untuk belajar lebih lanjut, melakukan eksplorasi dan inovasi.
5)   Metode yang digunakan dapat mendidik murid dalam teknik belajar sendiri dan cara memperoleh ilmu pengetahuan melalui usaha pribadi.
6)   Metode yang digunakan dapat menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai serta sikap-sikap utama yang diharapkan dalam kebiasaan cara bekerja yang baik dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam proses belajar mengajar,  guru ketika menentukan metode hendaknya tidak asal pakai, guru ketika menentukan metode harus melalui seleksi yang sesuai dengan perumusan tujuan pembelajaran. Metode apapun yang dipilih dalam kegiatan belajar mengajar hendaklah memperhatikan ketepatan (efektifitas) metode pembelajaran yang digunakan dalam proses belajar mengajar.
Ketika seorang guru dalam memilih metode pembelajaran untuk digunakan dalam praktik mengajar, maka harus mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:[21]
1)        Tidak ada metode yang paling unggul karena semua metode mempunyai karakteristik yang berbeda-beda dan memiliki kelemahan serta keunggulannya masing-masing.
2)        Setiap metode hanya sesuai untuk pembelajaran sejumlah kompetensi tertentu dan tidak sesuai untuk pembelajaran sejumlah kompetensi lainnya.
3)        Setiap kompetensi memiliki karakteristik yang umum maupun yang spesifik sehingga pembelajaran suatu kompetensi membutuhkan metode tertentu yang mungkin tidak sama dengan kompetensi yang lain.
4)        Setiap siswa memiliki sensitifitas berbeda terhadap metode pembelajaran.
5)        Setiap siswa memiliki bekal perilaku yang berbeda serta tingkat kecerdasan yang berbeda pula.
6)        Setiap materi pembelajaran membutuhkan waktu dan sarana yang berbeda.
7)        Tidak semua sekolah memiliki sarana dan fasilitas lainnya yang lengkap.
8)        Setiap guru memiliki kemampuan dan sikap yang berbeda dalam menerapkan suatu metode pembelajaran.
Dengan alasan di atas, jalan terbaik adalah menggunakan kombinasi dari metode yang sesuai dengan karakteristik materi yang diajarkan, karakteristik siswa, kompetensi guru dalam metode yang akan digunakan dan ketersediaan sarana prasarana dan waktu.


BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
1.      Rancangan model yang digunakan dalam usaha mencapai target kurikulum dan disertai dengan tahapan-tahapan atau cara-cara yang harus ditempuh oleh guru guna mencapai tujuan itu.
2.      Metode merupakan suatu alat dalam pelaksanaan pendidikan, yakni yang digunakan dalam penyampaian materi tersebut.
3.      Pendekatan pendidikan dapat diartikan sebagai suatu proses, perbuatan, dan cara mendekati serta mempermudah pelaksanaan pendidikan.






DAFTAR PUSTAKA

Djalal Fauza.Optimalisasi Pembelajaran Melalui Pendekatan,Strategi,dan Model Pembelajaran,. Medan: Sabilarrasyad, 2017, Vol. 2, 31-32.
Kurniati Ana, Aplikasi Pendekatan Pembelajaran Individual Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Pada Siswa Difabel (Tunanetra) di MAN Maguwoharjo, Yogyakarta: Citizenship, 2013,Vol. 3 No. 1, 44-46.
Maesaroh Siti, Peranan Metode Pembelajaran Terhadap Minat dan Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam”, jurnal Kependidikan, Vol. 1 No. 1, 2013, 154.
Sanjaya Wina. 2008. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group
SutiknoS obri. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Prospect
Afandi Muhammad dkk.2013.Model dan Metode Pembelajaran di Sekolah. Semarang: Unissula Press
Bahri Djamarah Syaiful. 2006. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta
Armai Arief. 2002.Pengantar Ilmu dan Metodelogi Pendidikan Islam. Jakarta: Ciputat Pers.
Majid Abdul. 2012. Belajar Dan Pembelajaran Agama Islam. Bandung : Remaja Rosdakarya.
Resiana. Terminologi Model, Pendekatan, Strategi, Dan Metode Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Jurnal Pendidikan Agama Islam 15, no. 2 (2018): 221
Budi Utomo Khoirul. Strategi Dan Model Pembelajaran Pendidikan Agama Islam MI, Modelinh : Jurnal Program Studi PGMI 5, no. 2 (2018): 148
Yamin Martinis. 2012. Desain Pembelajaran Kontruktivitastik. Jakarta: Referensi
Tambak Syahraini. Metode Resitasi Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Jurnal Al-Hikmah 13, no, 1 (2016): 35
Utomo Budi.  Strategi Dan Metode Pembelajaran Pendidikan Agama Islam MI
Lisa’ diyah Ma’rifataini. Implementasi Metode Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) Di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMA) 11 Bandung. “Edukasi Pendidikan Agama Dan Keagamaan 16, no. 1 (2018): 113

Ginting Abdurrahman. 2008. Esensi Praktis Belajar Dan Pembelajaran. Bandung: Humaniora.





[1]Fauza Djalal,Optimalisasi Pembelajaran Melalui Pendekatan,Strategi,dan Model Pembelajaran, (Medan: Sabilarrasyad, 2017), Vol. 2, 31-32.
[2] Ana Kurniati, Aplikasi Pendekatan Pembelajaran Individual Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Pada Siswa Difabel (Tunanetra) di MAN Maguwoharjo, (Yogyakarta: Citizenship, 2013),Vol. 3 No. 1, 44-46.
[3] Siti maesaroh, “Peranan Metode Pembelajaran Terhadap Minat dan Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam”, jurnal Kependidikan, Vol. 1 No. 1, 2013, 154.
[4] Wina sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2008), 17
[5] Sobri sutikno, Belajar dan Pembelajaran (bandung: Prospect, 2009), 88
[6] Muhammad afandi dkk, Model dan Metode Pembelajaran di Sekolah ( Semarang: Unissula Press, 2013), 16
[7] Syaiful Bahri Djamarah, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2006),  64
[8] Arief Armai, Pengantar Ilmu dan Metodelogi Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002),103
[9]Abdul Majid, Belajar Dan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2012), 110.
[10]Reksiana, “Diskursus Terminologi Model, Pendekatan, Strategi, Dan Metode Pembelajaran Pendidikan Agama Islam,” Jurnal Pendidikan Agama Islam 15, no. 2 (2018): 211.
[11]Khoirul Budi Utomo, “Strategi Dan Metode Pembelajaran Pendidikan Agama Islam MI,” MODELING: Jurnal Program Studi PGMI 5, no. 2 (2018): 148.
[12]Martinis Yamin, Desain Baru Pembelajaran Konstruktivistik (Jakarta: Referensi, 2012), 102.
[13]Syahraini Tambak, “Metode Resitasi Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam,” Jurnal Al-Hikmah 13, no. 1 (2016): 35.
[14]Tambak, 39.
[15]Syahraini Tambak, “Metode Drill Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam,” Jurnal Al-Hikmah 13, no. 2 (2016): 112.
[16]Tambak, 117.
[17]Budi Utomo, “Strategi Dan Metode Pembelajaran Pendidikan Agama Islam MI,” 148.
[18]Armai Arief, Pengantar Ilmu Metodologi Pendidikan Islam (Jakarta: Ciputat Press, 2002), 181.
[19]Budi Utomo, “Strategi Dan Metode Pembelajaran Pendidikan Agama Islam MI,” 148.
[20]Lisa’diyah Ma’rifataini, “Implementasi Metode Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) Di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMA) 11 Bandung,” EDUKASI: Jurnal Penelitian Pendidikan Agama Dan Keagamaan 16, no. 1 (2018): 113.
[21]Abdurrahman Ginting, Esensi Praktis Belajar Dan Pembelajaran (Bandung: Humaniora, 2008), 82.

0 komentar