BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakangkita telah pahami bahwa kurikulum merupakan sesuatu yang sangat diperlukan dalam dunia persekolahan. Tanpa adanya sebuah kurikulum, dipastikan proses pendidikan tidak akan terarah dan dapat mencapai tujuan yang diharapkan. Guru akan kesulitan menjabarkan urutan dan cakupan materi pembelajaran yang ditempuhnya, prosess pembelajaran yang diselenggarakan, alat atau media yang digunakan, penilaian yang perlu dilakukan. Salah satu hal yang penting kurikulum adalah organisasi kurikulum itu sendiri. Organisasi kurikulum adalah struktur program kurikulum yang berupa kerangka umum program-program pengajaran yang akan disampaikan kepada murid (Nurgiyantoro, 1988:111)
Ada berbagai pengorganisasian kurikulum yang isinya mengupas bagaimana bentuk bidang studi harus disajikan didepan kelas yang konsekuensinya akan diikuti oleh tindakan bagaimana cara memilih bahan ajar dan cara menyajikan serta cara mengevaluasinya.
Dalam organisasi kurikulum terdapat ciri-ciri yang dapat membedakan antara satu organisasi kurikulum dengan lainya, disamping itu dalam setiap atau pula organisasi kurikulum mempunyai keunggulan dan kelemahan masing-masing baik yang bersifat teoritis maupun dalam hal-hal yang praktis.
B. Rumusan Masalah
a. Apa Pengertian Organisasi Kurikulum ?
b. Apa Penentuan Kurikulum ?
c. Apa Bentuk-Bentuk Organisasi Kurikulum ?
C. Tujuan Penulisan
a. Untuk Mengetahui Pengertian Organisasi Kurikulum.
b. Untuk Mengetahui Penentuan Kurikulum.
c. Untuk Mengetahui Bentuk-Bentuk Organisasi Kurikulum.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Organisasi kurikulum
Organisasi kurikulum merupakan pola atau bentuk penyusunan bahan pelajaran yang akan diajarkan atau di sampaikan kepada murid atau merupakan suatu cara menyusun bahan atau pengalaman belajar ingin di capai dengan tujuan mempermudah siswa dalam mempelajari bahan pelajaran serta mempermudah siswa dalam melakukan kegiaatan belajar, sehingga tujuan pembelajaran di capai secara Afektif dan efesien. Organisasi kurikulum juga merupakan suatu dasar yang penting sekali dalam pembinaan kurikulum dan bertalian erat dengan tujuan progam pendidikan yang hendak di capai karena bentuk kurikulum turut menentukan bahan pelajaran, urutannya dan cara menyajikannya kepada murid-murid. Pada prinsipnya organisasi kurikulum disusun untuk mempermudah proses pembelajaran kepada siswa agar tujuan pendidikan dapat tercapai secara efektif dan optimal.
Pengorganisasian kurikulum dapat di lihat dari dua pendekatan yaitu dalam konteks manajemen dan dalam konteks akademik. Pengertian dari oraganisasi adalah suatu kelompok social yang bersifat tertutup atau terbuka dari / hadap pihak luar, yang di atur berdasarkan aturan tertentu, yang di pimpin atau diperintah oleh seorang pimpinan atau seorang staf adminstrasi, yang dapat melaksanakan bimbingan secara teratur dan bertujuan. Dalam sebuah organisasi sangat di perlukan melaksanakan proses manajemen, yakni:
a. Organisasi perencanaan kurikulum, yang dilaksanakan oleh suatu lembaga atau tim pengembangan kurikulum.
b. Oraganisasi dalam rangka implementasi kurikulum, baik dalam tingkat daerah maupun dalam tingkat sekolah atau satuan lembaga pendidikan yang melaksanakan kurikulum.
c. Organisasi dalam tahap evaluasi kurikulum, yang melibatkan pihak-pihak yang terkait dalam proses evaluasi sebuah kurikulum
B. Penentuan Isi Kurikulum
Isi kurikulum terdiri atas bahan-bahan pengajaran dan berbagai pengalaman yang diperlukan dalam tercapainya tujuan pendidikan. Para perencana kurikulum sering kali mengalami berbagai kesulitan dalam menyusun dan merencanakan isi kurikulum yang relevan dengan tujuan yang hendak dicapai. Sebabnya, masyarakat senantiasa terus berubah dan berkembang, sehingga banyak bermunculan masalah kehidupan baru yang perlu dipecahkan. Selain itu, muncul pula berbagai macam perbedaan dan perubahan minat, kebutuhan, dan masalah yang dihadapi anak-anak atau remaja. Berbagai perubahan dalam bidang sosial, ekonomi, budaya, politik, dan yang lainnya, ikut pula memengaruhi penentuan isi kurikulum.
Untuk mencegah kebingungan atau ketidakpastian Caswell dan Campbell telah merumuskan kriteria berikut:
1. Kegunaan isi kurikulum dalam menafsirkan, memahami dan menilai kehidupan yang kontemporer.
2. Kegunaan isi kurikulum dalam memuaskan minat dan kebutuhan para siswa.
3. Nilai isi kurikulum dalam mengembangkan kemampuan sikap, dan sebagainya, yang dipandang bermanfaat dalam kehidupan orang dewasa.
4. Isi kurikulum hendaknya signifikan bagi bidang mata pelajaran tertentu Meskipun diatas telah dirumuskan kriteria penentuan isi kurikulum, tampaknya Morine merasa bahwa kriteria tersebut masih belum lengkap dan terperinci. Dikaji dari sudut pandang yang lebih luas, sesungguhnya penentuan kriteria tersebut hendaknya bertitik tolak dari aspek tujuan pendidikan, proses pendidikan, dan keadaan para siswa sendiri.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, dirumuskanlah sejumlah kriterian berikut:
1. Kriteria yang berhubungan dengan tujuan pendidikan
a. Apakah isi kurikulum yang direncanakan tersebut signifikan, valid, dan berguna dalam menafsirkan, memahami (mengerti), dan menilai kehidupan yang kontemporer
b. Apakah isi kurikulum berhubungan dengan masalah-masalah kehidupan
c. Apakah isi kurikulum tersebut akan memajukan perkembangan dan pertumbuhan yang seimbang pada anak-anak.
d. Apakah isi kurikulum yang diajukan tersebut memang penting.
2. Kriteria yang berhubungan dengan sifat para siswa, yaitu apakah isi kurikulum tersebut berguna dalam memuaskan minat dan keingintahuan siswa.
C. Bentuk-Bentuk Organisasi Kurikulum
a. Kurikulum Mata Pelajaran
Kurikulum mata pelajaran (isolated subjects atau subjectmatter curriculum) ini digolongkan sebagai bentuk kurikulum yang masih tradisi. Kurikulum ini sejak lama di terapkan pada sekolah-sekolah kita, sampai munculnya kurikulum tahun 1975.
Kurikulum ini disebut demikian karena segala bahan pelajaran disajikan dalam subject atau mata pelajaran yang terpisah-pisah, yang satu lepas dengan yang lain. Kurikulum mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1. Terdiri atas sejumlah mata pelajaran yang terpisah satu sama lain dan masing-masing.
2. Tiap mata pelajaran seolah-olah rersipan dalam kotak tersendiri dan diberikan dalam waktu tertentu.
3. Hanya bertujuan pada penguasaan sejumlah ilmu pengetahuan dan mengabaikan perkembangan aspek tingkahlaku lainnya.
4. Tidak didasarkan pada kebutuhan, minat dan yang di hadapi para siswa.
5. Bentuk kurikulum yang tidak mempertimbangkan kebutuhan, masalah, dan tuntutan dalam masyarakat yang senantiasa berubah dan berkembang.
6. Pendekatan metodologi mengajarkan yang digunakan adalah sistem penuangan (imposisi) dan menciptakan perbedaan individual di kalangan para siswa.
7. Guru berperan paling aktif, dengan pelaksanaan sistem giri mata pelajaran dan mengabaikan unsur belajar aktif di kalangan para siswa.
8. Para siswa sama sekali tidak dilibatkan dalam perencanaan kurikulum secara kooperatif.
b. Kurikulum dengan Mata Pelajaran Berkorelasi
Untuk mengurangi kelemahan dengan adanya keterpisahan diantara berbagai mata pelajaran yang ada pada kurikulum mata pelajaran, diusahakanlah agar mata pelajaran tersebut tersusun dalam pola korelasi, sehingga lebih mudah dipahami oleh para siswa. Inilah yang dinamakan dengan kurikulum dengan mata pelajaran berkolerasi. Bentuk kolerasi ini terdiri atas dua pola, yaitu kolerasi informal dan kolerasi formal.
Dalam bentuk korelasi informal, seorang guru mata pelajaran meminta agar guru mata pelajaran lainnya mengorelasikan pelajaran yang akan diberikannya dengan bahan yang telah diberikan oleh guru pertama. Sebagai contoh, guru sejarah akan mengajarkan sejarah perang Diponegoro. Kemudian, guru ini meminta guru Ilmu Bumi agar membahas tentang daerah geografis terjadinya perang Diponegoro tersebut. Selanjutnya, guru bahasa diminta agar memberikan pelajaran bercerita tentang suasana masyarakat sewaktu terjadinya perang tersebut.
Agak berbeda dengan korelasi sebelumnya, dalam korelasi formal beberapa guru bersama-sama merencanakan untuk mengorelasikan mata pelajaran yang menjadi tanggungjwabnya masing-masing. Caranya, para guru yang bersangkutan terlebih dahulu menentukan suatu topik atau masalah. Misalnya, para guru menentukan topik “keluarga”. Kemudian, guru Bahasa memberikan cerita yang berkaitan dengan kehidupan keluarga, guru Menyanyi mengajarkan nyanyian pengantar tidur, guru Ilmu Berhitung memberikan cara pembuatan anggaran belanja dalam keluarga. Begitu seterusnya, sehingga para guru mata pelajaran lainnya dapat memberikan sumbangan terhadap pembahasan topik tersebut. Jadi, ciri-ciri kurikulum ini diantaranya adalah sebagai berikut :
a. Berbagai mata pelajaran dikorelasikan satu dengan yang lainnya.
b. Sudah dimulai adanya usaha untuk merelevansikan pelajaran dengan permasalahan kehidupan sehari-hari, kendatipun tujuannya masih penguasaan pengetahuan.
c. Sudah mulai mengusahakan penyesuaian pelajaran dengan minat dan kemampuan para siswa, meski pelayanan terhadap perbedaan individual masih sangat terbatas.
d. Metode penyampaian menggunakan metode korelasi, meski masih banyak menghadapi kesulitan.
e. Meski guru memegang peran aktif, namun aktifitas siswa sudah mulai dikembangkan.
c. Kurikulum Bidang Studi (Broad Fields Curriculum)
Sebagian ahli berpandangan bahwa kurikulum bidang studi merupakan bagian dari kurikulum korelasi, hal tersebut memang benar adanya, karena kurikulum bidang studi merupakan perpaduan atau fusi sejumlah mata pelajaran sejenis, yang mana hal tersebut memiliki ciri-ciri yang sama. Kurikulum Broad Fields kadang-kadang disebut kurikulum fusi. Taylor dan Alexander menyebutkan dengan sebutan The Broad Field of Subject Matter. Broad Fields menghapuskan batas-batas dan menyatukan mata pelajaran (Subject Matter) yang berhubungan dengan erat. usaha meningkatkan kurikulum dengan mengombinasikan beberapa mata pelajaran). Sebagai contoh: Sejarah, Geografi, Ilmu Ekonomi dan Ilmu Politik disatukan menjadi Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).
Phenik adalah orang pertama yang mencetuskan tipe organisasi broad field ini. Keinginan Phenik adalah agar pendidik mengerti jenis-jenis arti perkembangan kebudayaan yang efektif, mengerti manfaat yang didapatkan dari berbagai disiplin ilmu dan upaya mendidik anak agar menghasilkan suatu masyarakat yang civiled (beradab). Phenik mengemukakan lima dasar logikanya yang kemudian menghasilkan lima broad fields yaitu Symblies, Experics, Esthetics, Syuneetics dan Ethics.
Selanjutnya adalah berkaitan dengan kelebihan dan kekurangan Kurikulum bidang studi (Broad field curriculum)memiliki sejumlah kelebihan, diantaranya yaitu:
1. korelasi memajukan integrasi pengetahuan pada murid-murid. Mereka mendapat informasi mengenai suatu pokok tertentu tidak secara terpisah-pisah dalam berbagai mata pelajaran pada waktu yang berbeda-beda, tetapi dalam satu pelajaran, di mana pokok itu disoroti dari berbagai disiplin mata pelajaran tertentu. Dengan demikian, pengetahuan mereka tidak lepas-lepas melainkan bertautan, berpadu.
2. Minat murid bertambah apabila ia melihat hubungan antara mata pelajaran-mata pelajaran.
3. Pengertian murid-murid tentang sesuatu lebih mendalam, bila didapat penjelasan dari berbagai mata pelajaran.
4. Korelasi memberikan pengertian yang lebih luas karena diperoleh pandangan dari berbagai sudut dan tidak hanya dari satu mata pelajaran saja.
5. Korelasi memungkinkan murid-murid menggunakan pengetahuannya lebih fungsional. Mereka mendapat kesempatan menggunakan pengetahuan dari berbagai mata pelajaran guna memecahkan suatu masalah.
6. Korelasi antara mata pelajaran lebih mengutamakan pengertian dan prinsip-prinsip daripada pengetahuan dan penguasaan fakta-fakta.
Selain kelebihan yang dimiliki oleh kurikulum ini, terdapat beberapa kekurangan mengenai kurikulum bidang studi (Broad field curriculum) yaitu:
1. Kurikulum ini pada hakekatnya kurikulum yang subject centered dan tidak menggunakan bahan yang langsung berhubungan dengan kebutuhan dan minat anak-anak serta dengan masalah-masalah yang hangat yang dihadapi murid-murid dalam kehidupannya sehari-hari.
2. Broad field tidak memberikan pengetahuan yang sistematis serta mendalam mengenai berbagai mata pelajaran.
3. Guru sering tidak menguasai pendekatan inter-disipliner. Jika spesialisasinya geografi, ia akan mengutamakan geografi dan menjadikan sejarah, kewarganegaraan atau ekonomi sebagai pelajaran tertentu.
d. Kurikulum Terintegrasi
Dalam kurikulum terintegrasi atau terpadu (integrated curriculum) ini, batas-batas di antara semua mata pelajaran sudah tidak terlihat sama sekali, karena semua mata pelajaran sudah dirumuskan dalam bentuk masalah atau unit. Jadi semua mata pelajaran telah terpadu sebagai satu kesatuan yang bulat.
Ciri-ciri kurikulum terintegrasi ini adalah sebagai berikut:
a. Berdasarkan filsafat pendidikan demokrasI.
b. Berdasarkan psikologi belajar Gestalt atau organismic.
c. Berdasarkan landasan sosiologis dan sosial kultural.
d. Berdasarkan kebutuhan, minat, dan tingkat perkembangan atau pertumbuhan siswa.
e. Bentuk kurikulum ini tidak hanya ditunjang oleh semua mata pelajaran atau bidang studi yang ada, tetapi lebih luas. Bahkan, mata pelajaran atau bidang studi baru dapat saja muncul dan dimanfaatkan guna pemecahan masalah.
f. Sistem penyampaian menggunakan sistem pengajaran unit, baik unit pengalaman (experience unit) atau unit pelajaran (subject matter unit).
g. Peran guru sama aktifnya dengan peran murid. Bahkan peran murid lebih menonjol dalam kegiatan belajar-mengajar, dan guru bertindak selaku pembimbing.
Kendatipun bentuk kurikulum ini banyak sekali mengalami kemajuan dibandingkan bentuk kurikulum sebelumnya, namun dengan berbagai alasan sampai sekarang penggunaannya masih terbatas.
e. Kurikulum Inti
Dalam studi kurikulum akan kita temukan berbagai pengertian tentang apa yang dimaksud dengan istilah kurikulum inti (core curriculum atau core program) ini. Spears mengatakan bahwa:
"The provision of a common body of growth experiences, usually spoken of as the core curriculum".
Sedangkan Leonard menyatakan bahwa:
"... That part of the curriculum, which takes as its major job, is the development of personal social responsibility and competency needed by all youth to serve the needs of a democratic society".
Di lain pihak, Alberty menyatakan bahwa:
" The core may be regard as that aspect of the total curriculum which is basic for all student, and which consists of learning activities that are organised without reference to conventional subjects or lines".
Jadi, memang cukup banyak perumusan tentang apa yang dimaksud dengan kurikulum inti ini. Banyak dari berbagai pengertian tersebut yang dapat membingungkan kita. Atas dasar itu, Romine mencoba menyusun perumusan yang lebih komprehensif. la menyatakan bahwa:
"The core curriculum, core program, or core course may be defined as the part of the total curriculum objectives, which is scheduled for proportionally longer blocks of time".
Perumusan Romine ini terlihat lebih lengkap dan tidak memerlukan penjelasan lebih lanjut. Meskipun demikian, jika kita rinci perumusan tersebut mengandung sejumlah hal yangperlu mendapat perhatian, yaitu:
a. Kurikulum inti merupakan bagian dari keseluruhan kurikulum yang diperuntukkan bagi semua siswa;
b. Kurikulum inti bermaksud mencapai tujuan pendidikan umum;
c. Kurikulum inti disusun dari garis-garis pelajaran namun tidak secara ketat (bersifat luwes), dan
d. Kurikulum inti disusun untuk jangka waktu yang lebih lama.
Pada umumnya, kurikulum inti memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Ciri-ciri pokok (essential characteristics)
a. Core pelajaran meliputi pengalaman-pengalaman yang penting untuk pertumbuhan dan perkembanan semua siswa.
b. Core program berkenaan dengan pendidikan umum (general education) untuk memperoleh bermacam-macam hasil (tujuan pendidikan).
c. Berbagai kegiatan dan pengalaman core disusun dan diajarkan dalam bentuk kesatuan, tidak dibatasi oleh garis-garis pelajaran yang terpisah; dan
d. Core program diselenggarakan dalam jangka waktu yang lebih lama.
2. Ciri-ciri umum
a. Perencanaan oleh guru-guru secara kooperatif;
b. Pengalaman-pengalaman belajar disusun dalam unit-unit yang luas dan komprehensif berdasarkan tantangan, minat, kebutuhan, dan masalah dari kalangan siswa dan masyarakat sekitarnya;
c. Core pelajaran menggunakan proses demokratis;
d. Banyak dari core program yang dikaitkan dengan bimbingan dan pengajaran. Dalam hal ini, guru mempunyai tanggung jawab bimbingan terhadap the core class;
e. Core program secara lebih luas menggunakan sumber pengajaran yang luas, dan prosedur pengajaran yang lebih fleksibel dan variatif;
f. Penggunaan teknik problem solving dalam core program;
g. Guru dan murid saling mengenal satu sama lain dengan lebih baik, sehingga sehingga memudahkan pemberian pelayanan terhadap perbedaan individual;
h. Penilaian dilakukan dengan bermacam bentuk serta dikerjakan secara kontinu dan menyeluruh;
i. Pengalaman-pengalaman belajar bersifat fungsional serta melibatkan banyak kegiatan dan tanggung jawab terhadap para siswa; dan
j. Core program didominasi oleh usaha yang bertujuan untuk memperbaiki pengajaran. memudahkan pemberian pelayanan terhadap perbedaan individual;
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Organisasi kurikukulum merupakan pola atau bentuk penyusunan bahan pelajaran yang akan diajarkan atau di sampaikan kepada murid atau merupakan suatu cara menyusun bahan atau pengalaman belajar ingin di capai dengan tujuan mempermudah siswa dalam mempelajari bahan pelajaran serta memepermudah siswa dalam melakauakn kegiaatan belajar, sehingga tujuan pembelajaran di capai secara efetif dan efesien.
Isi kurikulum terdiri atas bahan-bahan pengajaran dan berbagai pengalaman yang diperlukan dalam tercapainya tujuan pendidikan.
Terdapat lima bentuk kurikulum yaitu Kurikulum mata pelajaran (isolated subjects atau subjectmatter curriculum), Kurikulum dengan Mata Pelajaran Berkorelasi, Kurikulum Bidang Studi (Broad Fields Curriculum), kurikulum terintegrasi atau terpadu (integrated curriculum), kurikulum inti (core curriculum atau core program).
DAFTAR PUSTAKA
Hamalik, Oemar. 2009. Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Ibnu Bakar at-Taubany, dan Trianto. 2017. Desain Pengembangan Kurikulum 2013 di Madrasah. Depok:Kencana.
Nasution, S. 2008. Asas-Asas Kurikulum. Jakarta: Bumi Aksara.
Sukuman. 2015. Pengembangan Kurikulum Perguruan Tinggi. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Triwiyanto, Teguh. 2015. Manajemen Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.







0 komentar