MAKALAH BIMBINGAN KONSELING: BIDANG PELAYANAN BIMBINGAN KONSELING


BIDANG PELAYANAN BIMBINGAN KONSELING
Makalah ini disusun Untuk Memenuhi Tugas
“Bimbingan Konseling”

Dosen Pengampu :
Nila Zaimatus Septiana, M.pd

Penyusun                                             
                       
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
JURUSAN  TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGRI
(IAIN) KEDIRI
2019


PEMBAHASAN

1.        PELAYANAN DASAR
Pelayanan dasar adalah proses pemberian bantuan kepada seluruh siswa melalui kegiatan penyiapan pengalaman terstruktur secara klasikal atau kelompok yang disajikan secara sistematis dalam rangka mengembangkan perilaku jangka panjang sesuai dengan tahap dan tugas-tugas perkembangan yang diperlukan dalam pengembangan kemampuan memilih dan mengambil keputusan dalam menjalani kehidupannya. Tujuan pelayanan ini adalah sebagai upaya untuk membantu siswa agar:[1]
a.       Memiliki kesadaran (pemahaman) tentang diri dan ligkungannya (pendidikan pekerjaan, sosial budaya, dan agama).
b.      Mampu mengembangkan keterampilan untuk mengidentifikasi tanggung jawab atau seperangkat tingkah laku yang layak bagi penyesuaian diri dengan lingkungannya.
c.       Mampu menangani atau memenuhi kebutuhan dan masalahnya.
d.      Mampu mengembangkan dirinya dalam rangka mencapai tujuan hidupnya.
Fokus pengembangan pelayanan dasar dirumuskan dan dikemas atas dasar standar kompetensi kemandirian antara lain mencakup pengembangan:
1)      self-esteem.
2)      motivasi berprestasi.
3)      keterampilan pengambilan keputusan,
4)      keterampilan pemecahan masalah,
5)      keterampilan hub hubungan antar pribadi atau berkomunikasi,
6)      penyadaran keragaman budaya, dan
7)      perilaku bertanggung jawab.
Sedangkan hal-hal yang terkait dengan perkembangan karir (terutama di tingkat SMP/SMA) mencakup pengembangan:[2]
1)      Pemantapan pemahaman diri berkenaan dengan kecendrungan karir yang hendak dikerjakan
2)      pemantapan pilihan program studi.
3)      Orientasi dan inormasi terhadap dunia kerja dan  usaha memperoleh penghasilan untuk memenuhi kepentingan hidup
4)      kesiapan pribadi (fisik-psikis, jasmaniah-rohaniah) dalam menghadapi pekerjaan, perkembangan dunia kerja.
5)      iklim kehidupan dunia kerja.
6)      cara melamar pekerjaan.
7)      kasus-kasus kriminalitas.
8)      bahayanya perkelahian masal (tawuran).
9)      dampak pergaulan bebas.
     Implementasi program pelayanan dasar bisa melalui bimbingan klasikal, artinya program yang dirancang menuntut guru untuk melakukan kontak langsung dengan peserta didik di kelas secara terjadwal. Selain bimbingan klasikal yaitu pelayanan orientasi.
Pelayanan ini merupakan kegiatan yang memungkinkan peserta didik dapat memahami dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, terutama lingkungan Sekolah/Madrasah, untuk mempermudah atau memperlancar berperannya mereka di lingkungan baru tersebut.
Layanan orientasi bisa dilakukan di Sekolah maupun diluar sekolah. Setelah layanan orientasi dilanjut dengan pelayanan informasi. Pelayanan ini bersifat pemberian informasi tentang berbagai hal yang dipandang bermanfaat bagi peserta didik melalui komunikasi langsung maupun tidak langsung (melalui media cetak maupun elektronik, seperti: buku, brosur, leaflet, majalah, dan internet). Program BK selanjutnya adalah guru BK memberikan bimbingan kelompok, bimbingan ini disebut bimibingan kelompok dengan tujuan untuk merespon kebutuhan dan minat para peserta didik. Terakhir adalah pelayanan pengumpulan data merupakan kegiatan untuk mengumpulkan data atau informasi tentang pribadi peserta didik, dan lingkungan peserta didik.Pengumpulan data ini dapat dilakukan dengan berbagai instrumen, baik tes maupun non-tes.

2.        PELAYANAN RESPONSIF
Pelayanan responsif adalah suatu kegiatan yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan siswa yang mendesak[3]. Maksudnya adalah pelayanan responsif merupakan sebuah layanan konseling yang harus segera diberikan kepada peserta didik yang memiliki masalah, jangan menunda untuk segera memberikan bantuan.
Ruang lingkup pelayanan responsif terdiri atas layanan bidang pribadi, bidang sosial, bidang akademik, dan bidang karir[4]. Pembahasannya sebagai berikut:
a.         Bidang Pribadi
1)      Ketakwaan kepada Tuhan Semesta Alam
a)      Kurang termotivasi untuk mempelajari agama
b)      Kurang berminat untuk menjalankan sebuah perintah agama
c)      Kurang memahami bahwa agama merupakan pedoman hidup
d)     Kurang adanya rasa sabar dan syukur terhadap diri sendiri
2)      Perolehan sistem nilai akademis
a)      Masih memiliki kebiasaan mencontek
b)      Masih memiliki kebiasaan berbohong
c)      Kurang disiplin
3)      Kemandirian Emosional
a)      Belum mampu mendewasakan diri
b)      Belum mampu menghormati orang tua atau orang lain tanpa pamrih
c)      Kurang mampu untuk mengendalikan stres
4)      Pengembangan keterampilan intelektual
a)      Belum mampu mengambil keputusan secara mandiri
b)      Belum mampu meperhitungankan sebab-akibat, untung-rugi dalam melakukan sesuatu
5)      Menerima diri dan mengembangkannya dengan cara yang positif
a)      Kurang merasa bangga terhadap diri sendiri
b)      Masih merasa minder ketika bergaul dengan seseorang yang memiliki kelebihan

b.      Bidang Sosial
Berperilaku sosial yang bertanggung jawab
a)      Tidak bisa menerima kritik orang lain
b)      Kurang memahami etika yang baik dalam sosial
c)      Kurang ikut berpartisipasi dalam kegiatan sosial

c.       Bidang Akademik
1)      Belum memiliki kebiasaan belajar yang baik
2)      Kurang memahami cara belajar yang efektif
3)      Belum mampu untuk membagi waktu belajar
4)      Tidak menyukai pelajaran-pelajaran tertentu


d.      Bidang Karir
1)      Belum mampu untuk memilih progam studi yang sesuai dengan bakat dan minat
2)      Belum mampu untuk menentukan tempat perkuliahan, ingin kuliah dimana?
3)      Masih bingung dalam menentukan perkerjaan
4)      Belum mampu untuk menentukan pekerjaan yang sesuai dengan bakat dan minat.
Layanan responsif juga merupakan layanan yang bersifat kuratif/ langsung sehingga memiliki berbagai strategi sebagai berikut[5]:
a.    Konseling secara individu/ kelompok
b.    Referal atau rujukan
c.    Bekerjasama dengan guru mata pelajaran atau wali kelas
d.   Kolaborasi dengan orang tua atau wali siswa
e.    Bekerjasama dengan pihak pihak terkait diluar sekolah
f.     Konferensi kasus
g.    Kunjungan rumah siswa.

3.    PENEMPATAN DAN PENYALURAN
Layanan penempatan dan penyaluran, yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik (klien) memperoleh menempatan dan penyaluran yang tepat (misalnya penempatan dan penyaluran di dalam kelas, kelompok belajar, jurusan/program studi, program latihan, magang, kegiatan co-ekstrakurikuler) sesuai dengan potensi, bakat dan minat serta kondisi pribadi.[6]
Berbagai hal yang menyebabkan potensi, bakat, dan minat yang tidak tersalurkan secara tepat akan mengakibatkan siswa yang bersangkutan tidak dapat berkembang secara optimal.[7] Melalui layanan penempatan dan penyaluran ini memberi kemungkinan kepada siswa berada pada posisi dan pilihan yang tepat, yaitu berkenaan dengan penjurusan, kelompok belajar, pilihan pekerjaan/karier, kegiatan ekstrakurikuler, program latihan dan pendidikan yang lebih tinggi sesuai dengan kondisi fisik dan psikisnya.[8] Jadi fungsi utama yang didukung oleh layanan penempatan dan penyaluran ini adalah fungsi pencegahan, pemeliharaan dan advokasi.
Sedangkan materi yang dapat diangkatkan melalui layanan penempatan dan penyaluran ini ada berbagai macam, yaitu meliputi:
a.    Penempatan di dalam kelas: berdasarkan kondisi dan ciri pribadi serta hubungan sosial siswa serta asas pemerataan.
b.    Penempatan dan penyaluran ke dalam kelompok belajar: berdasarkan kemampuan dan kelompok campuran
c.     Penempatan dan penyaluran ke dalam program yang lebih luas.[9]

4.    DUKUNGAN SISTEM
Dukungan sistem merupakan komponen layanan dan kegiatan manajemen yang secara tidak langsung memberikan bantuan kepada siswa atau memfasilitasi kelancaran perkembangan siswa. Dukungan sistem adalah kegiatan-kegiatan manajemen yang bertujuan untuk memantapkan, memelihara, dan meningkatkan program bimbingan secara menyeluruh melalui pengembangan professional, hubungan masyarakat dan staf, konsultasi dengan guru, staf ahli/penasehat, masyarakat yang luas, manajemen program, penelitian dan pengembangan.
Dukungan sistem juga dapat diartikan komponen pelayanan dan kegiatan manajemen, tata kerja, infra struktur (Teknologi Informasi dan Komunikasi), dan pengembangan kemampuan professional professional konselor/ guru pembimbing secara berkelanjutan, yang secara tidak langsung memberikan bantuan kepada peserta didik atau memfasilitasi kelancaran perkembangan peserta didik[10].
Layanan dasar, Layanan Responsif dan perencanaan Individual merupakan pemberian bimbingan dan konseling kepada konseli secara langsung. Sedangkan dukungan sistem merupakan komponen pelayanan dan kegiatan manajemen, tata kerja, infra struktur (misalnya Teknologi Informasi dan Komunikasi), dan pengembangan kemampuan profesional konselor secara berkelanjutan, yang secara tidak langsung memberikan bantuan kepada konseli atau memfasilitasi kelancaran perkembangan konseling.
Program ini memberikan dukungan kepada konselor dalam memper-lancar penyelenggaraan pelayanan diatas. Sedangkan bagi personel pendidik lainnya adalah untuk memperlancar penyelenggaraan program pendidikan di Sekolah/Madrasah.
Dukungan sistem ini meliputi aspek-aspek: (a) pengembangan jejaring (networking), (b) kegiatan manajemen, (c) riset dan pengembangan.
a.       Pengembangan Jejaring (networking)
Pengembangan jejaring menyangkut kegiatan konselor yang meliputi:
1)      konsultasi dengan guru-guru,
2)      menyelenggarakan program kerjasama dengan orang tua atau masyarakat,
3)      berpartisipasi dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan-kegiatan Sekolah/Madrasah,
4)      bekerjasama dengan personel Sekolah/Madrasah lainnya dalam rangka menciptakan lingkungan Sekolah/Madrasah yang kondusif bagi perkembangan konseling,
5)      melakukan penelitian tentang masalah-masalah yang berkaitan erat dengan bimbingan dan konseling, dan
6)      melakukan kerjasama atau kolaborasi dengan ahli lain yang terkait dengan pelayanan bimbingan dan konseling.

b.      Kegiatan Manajemen
Kegiatan manajemen merupakan berbagai upaya untuk memantapkan, memelihara, dan meningkatkan mutu program bimbingan dan konseling melalui kegiatan-kegiatan (1) pengembangan program, (2) pengembangan staf, (3) pemanfaatan sumber daya, dan (4) pengembangan penataan kebijakan.
1)      Pengembangan Profesionalitas
Konselor secara terus menerus berusaha untuk memutakhirkan pengetahuan dan keterampilannya melalui (a) in-service training; (b) aktif dalam organisasi profesi; (c) aktif dalam kegiatan-kegiatan ilmiah; seperti seminar dan workshop (lokakarya); atau (d) melanjutkan studi ke program yang lebih tinggi (Pascasarjana)[11].
2)      Pemberian Konsultasi dan Berkolaborasi
Konselor perlu melakukan konsultasi dan kolaborasi dengan guru, orang tua, staf Sekolah/Madrasah lainnya, dan pihak institusi di luar Sekolah/ Madrasah (pemerintah, dan swasta) untuk memper-oleh informasi, dan umpan balik tentang pelayanan bantuan yang telah diberikannya kepada para konseling, menciptakan lingkungan Sekolah/Madrasah yang kondusif bagi perkembangan konseli, melakukan referal, serta meningkatkan kualitas program bimbingan dan konseling.
Dengan kata lain strategi ini berkaitan dengan upaya Sekolah/ Madrasah untuk menjalin kerjasama dengan unsur-unsur masyarakat yang dipandang relevan dengan peningkatan mutu pelayanan bimbingan. Jalinan kerjasama ini seperti dengan pihak-pihak (1) instansi pemerintah, (2) instansi swasta, (3) organisasi profesi, seperti ABKIN (Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia), (4) para ahli dalam bidang tertentu yang terkait, seperti psikolog, psikiater, dokter, dan orang tua konseli, (5) MGBK (Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling), dan (6) Depnaker (dalam rangka analisis bursa kerja/lapangan pekerjaan).
3)      Manajemen Program
Suatu program pelayanan bimbingan dan konseling tidak mungkin akan terselenggara, dan tercapai bila tidak memiliki suatu sistem pengelolaan (manajemen) yang bermutu, dalam arti dilakukan secara jelas, sistematis, dan terarah.
Keterkaitan antar komponen pelayanan dan strategi peluncurannya dapat disimak pada gambar 5 kerangka kerja utuh bimbingan dan konseling.

c.         Riset dan Pengembangan
Kegiatan riset dan pengembangan merupakan aktivitas konselor yang berhubungan dengan pengembangan profesional secara berkelanjutan, yang meliputi:
1)       Merancang, melaksanakan, dan memanfaatkan PTK (Penelitian Tindakan Kelas) dalam BK sebagai sumber data bagi kepentingan kebijakan sekolah dan implementasi proses pembelajaran, serta pengembangan program bagi peningkatan unjuk kerja profesional guru pembimbing
2)      Merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi aktivitas pengembangan diri guru pembimbing yang profesional sesuai dengan Standar Kompetensi Konselor Indonesia (ABKIN)
3)      Mengembangkan kesadaran komitmen terhadap etika professional; d). Berperan aktif dalam organisasi dan kegiatan profesi BK seperti : instansi pemerintah/swasta,ABKIN(Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia), MGBK (Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling), Depnakertrans, dan ahli lainya[12].

DAFTAR PUSTAKA

A, Hallen.Bimbingan dan Konseling. Jakarta Selatan: Ciputat Pers. 2002
Asmani, Jamal Ma’mur.Panduan Efektif Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Yogyakarta: DIVA Press. 2010
ABKIN. Penataan Pendidikan Konselor dan Layanan Bimbingan Konseling. Jakarta: Depdiknas.  2007
Daryanto, M. Farid.Bimbingan Konseling Panduan Guru dan Guru Umum. Yogyakarta, PUSTAKA ILMU.2012
Febrini, Deni.Bimbingan Konseling. Yogyakarta : Teras. 2011
Hamdani.Bimbingan dan Penyuluhan. Bandung: PUSTAKA SETIA. 2012
Hidayat, Dede Rahmat Hidayat, Herdi.Bimbingan Konseling; Kesehatan Mental di Sekolah. Bandung: Remaja Rosdakarya. 2014
J, Achmad Nurihsan.Bimbingan & Konseling dalam Berbagai Latar Kehidupan. Bandung: PT. Refika Aditama. 2011
Sutirna, H.Bimbingan dan Konseling; Pendidikan Formal, Nonformal, dan Informal. Yogyakarta: Penerbit Andi. 2013
Yusuf, Syamsu Yusuf, Juntika Nurihson.Landasan Bimbingan & Konseling. Bandung: Remaja Rosdakarya. 2005


[1]Fenti Hikmawati, Bimbingan Konseling (Jakarta : Rajawali Pers, 2011) hlm. 13
[2]Deni Febrini,Bimbingan Konseling (Yogyakarta : Teras, 2011)hlm. 103
[3]Dede Rahmat Hidayat dan Herdi, Bimbingan Konseling; Kesehatan Mental di Sekolah (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2014) hlm. 136
[4] H. Sutirna, Bimbingan dan Konseling; Pendidikan Formal, Nonformal, dan Informal (Yogyakarta: Penerbit Andi, 2013) hlm. 71
[5]Hamdani, Bimbingan dan Penyuluhan (Bandung: PUSTAKA SETIA, 2012) hlm. 148
[6] Jamal Ma’mur Asmani, Panduan Efektif Bimbingan dan Konseling di Sekolah (Yogyakarta: DIVA Press, 2010) hlm. 114
[7] Hallen A, Bimbingan dan Konseling (Jakarta Selatan: Ciputat Pers, 2002) hlm. 83.
[8] Syamsu Yusuf dan Juntika Nurihson, Landasan Bimbingan & Konseling (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005) hlm. 21.
[9] Hallen A, Bimbingan., hlm. 84.
[10] Daryanto & M. Farid, Bimbingan Konseling Panduan Guru dan Guru Umum: (Yogyakarta, PUSTAKA ILMU, 2012) hlm.23
[11] Achmad Nurihsan J. Bimbingan & Konseling dalam Berbagai Latar Kehidupa, (Bandung: PT. Refika Aditama, 2011) hlm. 56
[12]ABKIN,Penataan Pendidikan Konselor dan Layanan Bimbingan Konseling,(Jakarta: Depdiknas, 2007) hlm. 214

0 komentar