STRATEGI KETERAMPILAN PROSES
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah
"Pembelajaran Akidah Akhlak"
Dosen pengampu :
MOCHAMMAD DESTA PRADANA M.Pd
Disusun oleh:
Dina Wulan Arum 932117617
Nur Chamidah 932103317
Aina Ainul Fikriyah 932109417
Asna Lu’luin Nisa’ 932105817
Kelas G
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS
TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) KEDIRI
TAHUN 2019
KATA
PENGANTAR
Assalamu’alaikum
Wr.Wb.
Alhamdulillahirabbil’alamin,
segala puji bagi Allah Swt yang telah memberikan rahmat, tauhid, serta hidayah-Nya
sehingga tugas makalah yang berjudul “Strategi Keterampilan Proses” dapat
terselesaikan. Sholawat serta salam tercurahkan kepada junjungan kita Nabi
Muhammad Saw, yang kita nanti-nantikan syafaatnya di yaumul akhir nanti. Dan
tak lupa penulis mengucapkan terimakasih kepada dosen pengampu Mochammad Desta
Pradana M.Pd, yang telah memberikan tugas makalah ini sehingga penulis
mempunyai banyak ilmu.
Dengan makalah ini,
diharapkan bisa bermanfaat, bisa memotivasi, dan menambah wawasan bagi yang
membacanya meskipun sepintas atau pengantarnya. Namun penulis berusaha untuk
menyajikan tulisan yang mudah dipahami dan dimengerti.
Kami
menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam menyusun makalah ini. Oleh karena
itu, kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat kami harapkan guna
kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita
semua.
Wassalamu’alaikum
Wr.Wb
Kediri,
27 September 2019
Penyusun
DAFTAR
ISI
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Mendidik merupakan suatu proses yang
mempunyai tanggung jawab untuk menjadikan seorang siswa menjadi seorang anak yang pintar dan bermoral didalam
proses belajar mengajar bagi para pendidik. Pendidik sebagai orang yang
menggerakkan terlaksananya proses belajar mengajar seharusnya tidak hanya
menggunakan strategi yang informasi saja. Sehingga membuat peserta didik kurang
mempunyai inisiatif dan tidak dibiasakan untuk mendapatkan pengetahuan melalui
usaha dan pengalaman siswa itu sendiri. Hal ini di karenakan peran peserta
didik lebih banyak hanya menerima informasi dari guru yang kemudian dihafal
untuk ujian atau mendapatkan nilai. Pendidik sebagai orang menggerakkan terlaksananya
proses belajar mengajar harusnya menggunakan strategi yang merangsang keaktifan
peserta didik.
Untuk itu perlu pengembangan kemampuan dasar,
berupa mental fisik dan sosial, sehingga pendidik dapat menemukan data dan
konsep maupun pengembangan sikap dan nilai melalui proses belajar mengajar.
Guna mengaktifkan peserta didik untuk mampu menumbuhkan sejumlah keterampilan
tertentu pada diri peserta didik tersebut.
Peserta didik juga harus melihat cara-cara
pemberian informasi dan suasana interaksi dalam proses belajar mengajar.
Seperti dengan cara melihat, mendengar dan memperhatikan apa yang disampaikan
pendidik , kemudian melakukan apa yang diperintahkan pendidik dalam membimbing
peserta didik tersebut untuk aktif
belajar.
B. Rumusan
Masalah
1.
Apa
pengertian dari pendekatan keterampilan proses?
2.
Apa
saja keterampilan dalam keterampilan proses?
3.
Bagaimana
cara membangun suasana kelas yang kondusif?
4.
Apa
saja kelebihan dan kekurangannya?
C. Tujuan
Masalah
1.
Untuk
mengetahui pengertian dari pendekatan keterampilan proses.
2.
Untuk
mengetahui keterampilan dalam keterampilan proses.
3.
Untuk
mengetahui cara membangun suasana kelas yang kondusif.
4.
Untuk
mengetahui kelebihan dan kekurangan strategi keterampilan proses.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pendekatan
Keterampilan Proses
Pendekatan keterampilan proses adalah
pendekatan pembelajaran yang menekankan pada kegiatan keterampilan proses yang
digunakan untuk mengungkap dan menemukan fakta dan konsep serta menumbuhkan
sikap dan nilai yang diperlukan oleh siswa.
Menurut Depdikbud 1986 dalam Dimyati dan
Mudjiono pendekatan Keterampilan Proses dapat diartikan sebagai: wawasan atau
anutan pengembangan keterampilan-keterampilan intelektual, sosial, dan fisik
yang bersumber dari kemampuan-kemampuan mendasar yang pada prinsipnya telah ada
dalam diri siswa. Dengan kata lain adalah untuk mengembangkan
kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh siswa.[1]
Pendekatan keterampilan proses juga diartikan
sebagai pendekatan dalam proses pembelajaran yang menitik beratkan pada
aktivitas dan kreatifitas siswa untuk mengembangan kemampuan fisik dan mental
yang sudah dimiliki ke tingkat yang lebih tinggi dalam proses perolehan
belajarnya.[2]
Syafi’i mengemukakan bahwa: Pendekatan
keterampilan proses memang lebih memfokuskan kegiatan belajar mengajar pada
proses pemerolehan hasil belajar atau pencapaian tujuan pelajaran itu sendiri.
Namun, hal ini tidak berarti bahwa hasil belajar atau tujuan pembelajaran tidak
penting. Pendekatan ini merupakan upaya menumbuhkan kemampuan dasar siswa untuk
memperoleh pengetahuan, pengalaman, dan kemampuan:
a.mengamati,
b.menghitung,
c.mengukur,
d. mengklasifikasikan,
e. menemukan hubungan,
f. membuat prediksi,
g. melaksanakan penelitian,
h. mengumpulkan dan menganalisis data, serta
i. kemampuan mengomunikasikan.
Dengan menggunakan keterampilan memprosesn
perolehan pengetahuan, siswa akan mampu menemukan konsep, prinsi atau teori,
untuk mengembangkan yang telah ada sebelumnya ataupun melakukan penyangkalan
terhadap suatu penemuan. Proses belajar mengajar dengan menggunakan pendekatan
keterampilan proses akan menciptakan kondisi belajar yang melibatkan keaktifan
siswa.
Ada beberapa alasan yang melandasi perlu
diterapkannya pendekatan keterampilan proses dalam kegiatan belajar mengajar.
Alasan pertama yaitu perkembangan ilmu pengetahuan berlangsung semakin cepat
sehingga tidak mungkin para guru mengajar semua fakta dan konsep kepada siswa.
Kedua, para ahli psikologi pada umumnya sependapat bahwa anak-anak mudah
memahami konsep-konsep yang rumit dan abstrak jika disertai dengan
contoh-contoh yang konkret dan nyata. Ketiga, penemuan ilmu pengetahuan tidak
bersifat mutlak benar seratus persen, penemuannya bersifat relatif. Keempat, dalam
proses belajar mengajarnya sebaiknya pengembangan konsep tidak lepas dari
perkembangan sikap dan nilai dalam anak didik. Karena itu, pengembangan
keterampilan dalam memperoleh data dan pengetahuan akan berperan sebagai wahana
penyatu antara pengembangan konsep dan pengembangan sikap serta nilai.[3]
B. Jenis-Jenis
Keterampilan dalam Keterampilan Proses
Menurut Funk dalam bukunya Dimyati dan
Mudjiono mengemukakan bahwa: Jenis-jenis keterampilan dalam keterampilan proses
terdiri dari dua yaitu keterampilan proses dasar dan keterampilan terintegrasi.
a) Keterampilan proses dasar
(basic skill)
a) Observasi
Kemampuan
mengamati merupakan keterampilan paling dasar dalam proses dan memperoleh ilmu
serta hal terpenting untuk mengembangkan keterampilan proses yang lain.[4]
Mengamati merupakan tanggapan terhadap berbagai objek dan peristiwa alam dengan
pancaindra. Dengan observasi, siswa mengumpulkan data tentang
tanggapan-tanggapan terhadap objek yang diamati.
b) Klasifikasi
Sejumlah
besar objek, peristiwa, dan segala yang ada dalam kehidupan di sekitar, lebih
mudah dipelajari apabila dilakukan dengan cara menentukan berbagai jenis
golongan. Menggolongkan dan mengamati persamaan, perbedaan dan hubungan serta
pengelompokan objek berdasarkan kesesuaian dengan berbagai tujuan.
c) Komunikasi
Mengkomunikasikan
dapat diartikan sebagai penyampaikan dan memperoleh fakta, konsep, dan prinsip
ilmu pengetahuan dalam bentuk suara, visual, atau suara dan .
d) Pengukuran
Mengukur
dapat diartikan sebagai membandingkan yang diukur dengan satuan ukuran tertentu
yang telah ditetapkan sebelumnya.
e) Prediksi
Predeksi
merupakan keterampilan meramal yang akan terjadi, berdasarkan gejala yang ada.
Keteraturan dalam lingkungan kita mengizinkan kita untuk mengenal pola dan
untuk memprediksi terhadap pola-pola apa yang mungkin dapat diamati.
f) Inferensi
Melakukan
inferensi adalah menyimpulkan. Ini dapat diartikan sebagai suatu keterampilan
untuk memutuskan keadaan suatu objek atau peristiwa berdasarkan fakta, konsep
dan prinsip yang diketahui.
b) Keterampilan terintegrasi (integarted
skill).
Keterampilan terintegrasi merupakan perpaduan dua
kemampuan keterampilan proses dasar atau lebih. Keterampilan terintegrasi
terdiri atas: mengidentifikasi variabel, tabulasi, grafik, diskripsi hubungan
variabel, perolehan dan proses data, analisis penyelidikan, hipotesis
ekperimen. Bila kita kaji lebih lanjut sebagai berikut.
a) Identifikasi Variabel
Keterampilan
mengenal ciri khas dari faktor yang ikut menentukan perubahan.Dalam
penyelidikan ilmiah para ilmuan sering mengendalikan variable eksperimen atau
penelitian.
b) Tabulasi
Keterampilan
penyajian data dalam bentuk tabel, untuk mempermudah pembacaan hubungan
antarkomponen (penyusunan data menurut lajur-lajur yang tersedia).
c) Grafik
Keterampilan
penyajian dengan garis tentang turun naiknya sesuatu keadaan.
d) Deskripsi hubungan variabel
Variabel
adalah faktor yang berpengaruh. Sebagai contoh, guru dapat melatih anak-anak
dalam mengendalikan variabel untuk membuktikan bahwa tanaman jagung yang diberi
pupuk akan lebih cepat tumbuh.
e) Perolehan dan proses data
Keterampilan
melakukan langkah secara urut untuk memperoleh data. Data yang dikumpulkan
melalui observasi, penghitungan, pengukuran, eksperimen dapat dicatat dan
disajikan dalam bentuk grafik, tabel, histogram, atau diagram.
f) Analisis penyelidikan
Keterampilan
menguraikan pokok persoalan atas bagian-bagian dan terpecahkannya permasalahan
berdasarkan metode yang konsisten untuk mencapai pengertian tentang
prinsip-prinsip dasar.
g) Hipotesis
Keterampilan
merumuskan dugaan sementara. Hipotesis menyatakan hubungan antara dua variabel
atau mengajukan perkiraan penyebab suatu terjadi. Dengan berhipotesis di
ungkapkan cara melakukan pemecahan masalah.
h) Ekperimen
Keterampilan
melakukan percobaan untuk membuktikan suatu teori/penjelasan berdasarkan
pengamatan dan penalaran.[5]
C. Membangun
Suasana Kelas yang Kondusif
Keterampilan proses sebagai suatu pendekatan
dalam proses pembelajaran mengarah pada pengembangan kemampuan fisik dan mental
yang mendasar sebagai pendorong untuk mengembangkan kemampuan yang lebih tinggi
pada diri siswa.[6]
Langkah-langkah Pelaksanaan Pendekatan
Keterampilan Proses
Pengajaran dengan pendekatan keterampilan
proses dilaksanakan dengan beberapa langkah, sebagai berikut:
1. Mengamati
Kegiatan ini bertujuan untuk melakukan
pengamatan yang terarah tentang gejala atau fenomena sehingga mampu membedakan
yang sesuai dan yang tidak sesuai dengan pokok permasalahan.Pengamatan disini
diartikan sebagai penggunaan indera secara optimal dalam rangka memperoleh
informasi yang lengkap atau memadai.
2. Mengklarifikasi
Kegiatan ini bertujuan untuk menggolongkan
sesuatu berdasarkan syarat-syarat tertentu.
3. Menafsirkan
Data yang dikumpulkan melalui observasi,
perhitungan, pengukuran, eksperimen, atau penelitian sederhana dapat dicatat
atau disajikan dalam berbagai bentuk, seperti tabel, grafik, diagram.
4. Meramalkan
Hasil interpretasi dari suatu pengamatan
digunakan untuk meramalkan atau memperkirakan kejadian yang belum diamati atau
kejadian yang akan datang
5. Membuat hipotesis
Hipotesis adalah suatu perkiraan yang
beralasan untuk menerangkan suatu kejadian atau pengamatan tertentu.Penyusunan
hipotesis adalah salah satu kunci pembuka tabir penemuan berbagai hal baru.
6. Mengendalikan variabel
Variabel adalah faktor yang
berpengaruh.Pengendalian variabel adalah suatu aktifitas yang dipandang sulit,
namun sebenarnya tidak sesulit yang kita bayangkan. Hal ini tergantung dari
bagaimana guru menggunakan kesempatan yang tersedia untuk melatih anak
mengontrol dan memperlakukan variabel.
7. Merencanakan penelitian
Eksperimen adalah melakukan kegiatan
percobaan untuk membuktikan apakah hipotesis yang diajukan sesuai atau tidak.
8. Menyusun kesimpulan sementara
Kegiatan ini bertujuan menyimpulkan hasil
percobaan yang telah dilakukan berdasarkan pola hubungan antara hasil
pengamatan yang satu dengan yang lainnya.
9. Menerapkan (mengaplikasikan) konsep
Mengaplikasikan konsep adalah menggunakan
konsep yang telah dipelajari dalam situasi baru atau dalam menyelesaikan suatu
masalah,misalnya sesuatu masalah yang dibicarakan dalam mata pelajaran yang
lain.
10. Mengkomunikasikan
Kegiatan ini bertujuan untuk
mengkomunikasikan proses dari hasil perolehan kepada berbagai pihak yang
berkepentingan, baik dalam bentuk kata-kata, grafik, bagan maupun tabel secara
lisan maupun tertulis.[7]
D. Kelebihan
dan Kekurangan
Adapun keunggulan dan kelemahan pendekatan
keterampilan proses, adalah:
Kelebihan Pendekatan Keterampilan Proses
Samatowa mengemukakan bahwa keunggulan
pendekatan keterampilan proses adalah :
1. Siswa terlibat langsung dengan objek nyata
sehingga dapat mempermudah pemahaman siswa terhadap materi pelajaran,
2. Siswa menemukan sendiri konsep-konsep yang
dipelajari,
3. Melatih siswa untuk berpikir lebih aktif
dalam pembelajaran,
4. Mendorong siswa untuk menemukan konsep-konsep
baru,
5. Memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar
menggunakan metode ilmiah.[8]
Kelemahan Pendekatan Keterampilan Proses
Sedangkan kelemahan pendekatan keterampilan
proses, dikemukakan oleh Sagala, sebagai berikut:
1. Memerlukan banyak waktu sehingga sulit untuk
dapat menyesuaikan bahan pengajaran yang ditetapkan dalam kurikulum,
2. Memerlukan fasilitas yang cukup baik dan
lengkap sehingga tidak semua sekolah dapat menyediakannya,
3. Merumuskan masalah, menyusun hipotesis,
merancang suatu percobaan untuk memperoleh data yang relevan adalah pekerjaan
yang sulit, tidak setiap siswa mampu melaksanakannya.[9]
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Pendekatan Keterampilan Proses sebagai
pendekatan yang menekankan pada penumbuhan dan pengembangan sejumlah keterampilan
tertentu pada diri peserta didik agar mereka mampu memproses informasi sehingga
ditemukan hal-hal baru yang bermanfaat baik berupa fakta, konsep
maupun pengembangan sikap dan nilai.
Ditinjau dari tujuannya Pendekatan
Keterampilan Proses diharapkan mampu memotivasi dan mendorong siswa untuk
berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran, karena pada hakikatnya
Keterampilan Proses ini siswa sendirilah yang harus mencari dan menemukan
konsep tersebut.
Menurut
Funk (1985) dalam Dimyati dan Mudjiono, bahwa Pendekatan Keterampilan Proses
dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu : Keterampilan Proses Dasar (Basic
Skill) dan Keterampilan Terintegrasi (Intergarted Skill). Adapun
beberapa model mengajar dalam Pendekatan Keterampilan Proses yaitu, Model dengar-lihat-kerjakan
(Delikan), model pemecahan masalah (Permas), model induktif, model deduktif dan
model gabungan induktif dan deduktif.
B.
Saran
Dalam
pelaksanaan Pendekatan Keterampilan Proses ini, sebagai para calon pendidik dalam mengimplementasikan pendekatan
keterampilan proses ini hendaknya melakukan perannya secara penuh yaitu dengan membuat
persiapan yang matang sebelum mengimplementasikannya guna mengkoordinir,
memfasilitator serta membimbing peserta didik agar pendekatan ini terlaksana
dengan baik dan tujuan pembelajaran yang diinginkan dapat tercapai dengan
optimal.
DAFTAR
PUSTAKA
Hamalik Oemar. 2014. Kurikulum dan Pembelajaran, ( Jakarta: Bumi Aksara)
Hosnan
Mohammad. 2014. Pendekatan Saintifik dan
Kontekstualdalam Pembelajaran abad 21. (Bogor: Ghalia Indonesia)
Muamar Rezeki. Analisis Keterampilan Proses
Sains dan Keterampilan Kognitif Siswa melalui Metode Praktikum Biologi pada Sub
Materi Schizophyta dan Thallophyta. Jurnal
Pendidikan Almuslim, Vol. V No.1 Januari 2017
Mudjiono dan Dimyati. 2009. Belajar dan
Pembelajaran. (Jakarta: Rineka Cipta)
Sagala Syaiful. 2003. Konsep dan Makna Pembelajaran. (Bandung: Alfabeta)
Samatowa
Usman. 2006. Bagaimana Membelajarkan IPA
di Sekolah Dasar. (Jakarta: Departemen Pendidikan)
Susanto
Ahmad. 2013. Teori Belajar dan
Pembelajaran di Sekolah Dasar, (Jakarta: Kencana Prenada Media)
Hadma Yuliani, dkk. Pembelajaran Fisika dengan
Pendekatan Keterampilan Proses dengan Metode Eksperimen dan Demonstrasi
Ditinjau dari Sikap Ilmiah dan Kemampuan Analisis, Jurnal
Inkuiri, Vol. 1, No. 3. 2012.
[1] Dimyati dan Mudjiono, Belajar
dan Pembelajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 2009), 138.
[2] Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran, ( Jakarta:
Bumi Aksara, 2014), 149-150.
[3]
Hadma Yuliani, dkk,
“Pembelajaran Fisika dengan Pendekatan Keterampilan Proses dengan Metode
Eksperimen dan Demonstrasi Ditinjau dari Sikap Ilmiah dan Kemampuan Analisis”, Jurnal Inkuiri, Vol. 1, No. 3 (2012),
209-210
[4] Rezeki Muamar, “Analisis
Keterampilan Proses Sains dan Keterampilan Kognitif Siswa melalui Metode
Praktikum Biologi pada Sub Materi Schizophyta dan Thallophyta”, Jurnal
Pendidikan Almuslim, Vol. V No.1 ( Januari 2017) ,
[5]
Dimyati dan Mudjiono, Belajar
dan Pembelajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 2009), 140.
[6] Ahmad Susanto, Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah
Dasar, (Jakarta: Kencana Prenada Media, 2013), 9.
[7] M. Hosnan, Pendekatan Saintifik dan Kontekstualdalam Pembelajaran abad 21. (Bogor:
Ghalia Indonesia, 2014), 370.
[8] Usman Samatowa, Bagaimana Membelajarkan IPA di Sekolah
Dasar. (Jakarta: Departemen Pendidikan, 2006), 138.
[9] Syaiful Sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran. (Bandung:
Alfabeta, 2003), 75.








0 komentar