MAKALAH BIMBINGAN KONSELING TUGAS KONSELOR SMA DAN SMK


MENGIDENTIFIKASI TUGAS KONSELOR PADA JENJANG PENDIDIKAN SMA, SMK
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Bimbingan Konseling
Dosen pengampu : Nila Zaimatus Septiana, M.Pd

          Disusun oleh :                
Dina Wulan Arum                               (932117617)
Mida Latifatul Muzamiroh                 (932116717)                           
Nurul Fitri Wulandari                         (932118117)
Rochmatun Nisak                               (932106117)
Kelompok  10
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS  TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) KEDIRI
2019



PENDAHULUAN
Siswa pada jenjang pendidikan SMA/SMK adalah siswa usia remaja yang berada pada periode transisi yaitu antara masa anak-anak dalam kehidupan orang dewasa. Dimana pada periode ini siswa remaja akan mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri untuk menempuh kehidupan sebagai calon orang dewasa. Siswa remaja akan mengalami kebingungan menghadapi diri sendiri dan sikap-sikap orang disekitarnya yang sering memperlakukan mereka sebagai anak-anak, namun sering juga menuntut mereka bertingkah laku dewasa. Masalah yang muncul dan dirasakan siswa akan mengakibatkan terganggunya kegiatan belajar siswa. Seperti yang dikemukakan oleh Syamsu Yusuf & Juntika Nurihsan (2009;212) yang menyatakan bahwa perasaan yang akan timbul dari tidak terselesaikannya suatu masalah yang dialami oleh individu yaitu perasaan rendah diri, perasaan tidak mampu, perasaan gagal dan perasaan bersalah. Dengan mengalami berbagai masalah tersebut, siswa berkeinginan untuk menyampaikan permasalahan yang dialaminya kepada guru BK/Konselor. Disinilah peran konselor sangat dibutuhkan untuk mengawal perkembangan psikis siswa remaja dalam menghadapi permasalahannya.


A.    MASALAH YANG DIHADAPI KONSELOR/GURU BK
1.    Jenjang SMA
Keberadaan Konselor dalam Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan sebagai salah satu kualifikasi pendidik, sejajar dengan kualifikasi guru, dosen, pamong belajar, tutor, widyaiswara, fasilitator, dan instruktur (UU No. 20 Tahun 2003 pasal 1 Ayat 6).Kegiatan pelayanan yang konselor diberikan kepada konseli yang datang kepada konselor untuk memecahkan masalahnya, tidaklah selalu berhasil dengan baik. Hal ini disebabkan oleh hambatan-hambatan atau rintangan-rintangan yang mungkin datang dari konseli atau konselor itu sendiri. Hambatan-hambatan yang mungkin datang atau berasal dari konseli dapat berupa hal-hal sebagai berikut :
a.    Konseli tidak terbuka sepenuhnya kepada konselor atas persoalan yang sedang dihadapi;
b.    Konseli merasa tidak bebas untuk mengungkapkan persoalannya;
c.    Suasana di sekitaran tempat pelayanan kurang nyaman/aman sehingga membuat konseli enggan menyampaikan permasalahannya;
d.   Konseli tidak percaya kepada konselor untuk dapat membantu menyelesaikan persoalan yang sedang dihadapinya, terutama bagi konseli yang dipanggil.[1]
Hambatan tersebut tidak hanya dialami berasal dari dalam diri klien, akan tetapi permasalahan lain juga berasal dari dalam diri konselor itu sendiri. Sementara itu, hambatan-hambatan yang mungkin datang dari seorang konselor biasanya disebabkan oleh kurangnya kemampuan /penguasaan seorang konselor dalam menggunakan teknik-teknik konseling, baik itu verbal maupun non verbal, sehingga masalah yang dialami siswa tidak terungkap dengan jelas. Selain itu, juga mungkin disebabkan oleh ketidakmampuan seorang konselor dalam membina hubungan yang baik dengan konseli pada saat/permulaan konseling, sehingga membuat konseli merasa tidak bebas untuk mengungkapkan masalahnya, terutama bagi konseli yang dipanggil. Permasalahan lain yang tidak kalah pentingnya dialami konselor adalah masalah eksternal baik itu dari teman sejawat yang menganggap negatif keberadaan konselor, dan sistem yang tidak mendukung keberadaan layanan bimbingan dan konseling di sekolah.
Pada hakekatnya bimbingan dan konseling di sekolah terselenggara bila siswa secara aktif mau menemui konselor untuk melaksanakan konseling. Di sekolah konseling dapat diupayakan keterlaksanaannya dalam tiga bentuk yaitu inisiatif konselor memanggil siswa, inisiatif siswa untuk mendatangi konselor atau inisiatif pihak atau guru lain sebagai perantara. Adapun ketentuan untuk memanggil siswa berdasarkan inisiatif konselor ataupun melalui perantara pihak lain menempuh cara berikut:
a.    Panggilan didahului oleh analisis yang mendalam;
b.    Panggilan dengan bahasa yang halus dan tidak ada unsur paksaan;
c.    Panggilan beralasan untuk kepentingan siswa;
d.   Panggilan tidak merugikan siswa dari segi kerahasiaan atau yang merugikan belajar siswa. Sedangkan inisiatif siswa untuk mendatangi konselor secara sukarela adalah hal yang ideal untuk terselanggaranya konseling yang baik.[2]

2.    Jenjang SMK
                            Berdasarkan hasil analisis data dalam Jurnal Penelitian Ilmu Pendidikan Volume 10 nomor 1 tahun 2017 oleh  Muh Farozin, Suwarjo, Budi Astuti, Khairi Bintani, Ade Syarifah, dan Shufiyanti Arfalah dengan judul“Identifikasi Permasalahan Perancangan Program Bimbingan Dan Konseling Pada Guru Smk Di Kota Yogyakarta”, dapat diketahui bahwa pada proses perancangan program bimbingan dan konseling, guru bimbingan dan konseling mengalami permasalahan pada aspek:
(1) Evaluasi pelaporan dan tindak lanjut yang meliputi keterampilan membuat rancangan evaluasi program, evaluasi layanan, pelaporan pelaksanaan program dan rekomendasi tindak lanjut, serta keterampilan menggunakan software analisis instrumen program bimbingan dan konseling, tidak memiliki software analisis instrumen evaluasi program, serta kondisi yang kurang dan tidak baik pada instrumen dan software analisis instrumen evaluasi program bimbingan dan konseling;
(2)  Anggaran biaya, yaitu keterampilan membuat rencana anggaran biaya operasional layanan bimbingan dan konseling dan pengembangan profesi;
(3)  Sarana prasarana, meliputi keterampilan membuat rencana pengadaan sarana prasarana bimbingan dan konseling dan pada dukungan warga sekolah dalam membuat rincian sarana prasarana bimbingan dan konseling, tidak memiliki ruang konseling pustaka, kondisi ruang bimbingan dan konseling kelompok, ruang data, ruang konseling pustaka, dan kondisi fasilitas penunjang yang berupa alat pengumpul data berupa tes yang kurang dan tidak baik; serta
(4) Ekuivalensi jam layanan bimbingan dan konseling dengan mata pelajaran yaitu keterampilan membuat ekuvalensi jam layanan bimbingan dan konseling dengan jam mata pelajaran.[3]

B.     UPAYA KONSELOR/ GURU BK DALAM MENANGANI PERMASALAHAN SISWA DI SMA/SMK
1.    SMA NEGERI 13 PADANG
Berdasarkan hasil wawancara penelitian di SMA Negeri 13 Padang tanggal 9 Oktober 2012 pada jurnal yang kami kutip, menyatakan bahwa siswa yang datang baik dipanggil, datang sendiri maupun rekomendasi menceritakan tentang permasalahan pribadi belajar, sosial dan karir, kebanyakan siswa yang konsultasi membahas masalah berkaitan dengan keadaan fisik yang kurang menarik, mengenai hubungan muda-mudi, masalah siswa yang tidak konsentrasi dalam belajar, mengenai masalah sosial yang terjadi dikalangan siswa diantaranya adalah masalah tidak patuh terhadap tata tertib dan kurang sopan terhadap guru dan teman-temannya. Sedangkan dalam masalah karir yaitu tentang pilihan jurusan yang membuat siswa kebingungan. Dari permasalahan itu ada beberapa faktor yang mendorong siswa untuk mengeluhkan masalahnya kepada guru BK. Dari hasil wawancara penulis jurnal yang kami kutip, mengatakan bahwa mereka yang datang kepada guru BK karena adanya dorongan dari teman sekelas, sahabat, dan wali kelas.[4]
2.      SMA NEGERI 1 KUTAPAJANG
                            Berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Yusrah Dani, Nur Janah & Hetti Zulianidi SMA Negeri 1 Kutapajang Kab.Gayo Lues yang menunjukkan bahwa pelanggaran perilaku disiplin siswa SMA Negeri 1 Kutapanjang Kab. Gayo Lues terbagi tujuh, yaitu datang sekolah tidak tepat waktu, merokok, membolos, berkelahi, tidak mengerjakan PR ( tugas sekolah), tidak jujur dan menyontek. Upaya yang diberikan guru BK terhadap perilaku disiplin siswa disekolah adalah memberikan layanan bimbingan dan konseling kepada siswa dan mengarahkan serta menginformasikan tentang perilaku disiplin, dan peraturan- peraturan yang telah ditentukan oleh sekolah dan harus dipatuhi oleh semua siswa. Penyampaian informasi tentang peraturan tata tertib sekolah dilakukan oleh guru BK/ pembimbing pada saat penerimaan calon siswa/murid tahun ajaran baru.[5]
Sehubungan dengan kegiatan bimbingan dan konseling dalam mengatasi masalah disiplin siswa, maka guru BK di sekolah memiliki peranan penting dalam kegiatan pembentukan perilaku disiplin siswa di sekolah. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Moh. Shochib (2010: 11)  “Jika dalam era globalisasi tidak ada upaya untuk mengantisipasi, siswa dapat larut dan hanyut didalamnya. Berkaitan dengan itu, perubahan yang cepat mengharuskan adanya berbagai upaya terhadap siswa agar mereka memiliki kemampuan untuk mengantisipasi, mengakomodasi, dan mewarnainya. Karena anomali era global secara maknawi semakin meningkatkan untuk digandrungi oleh anak remaja. Misalnya seks bebas, ekstasi; minum minuman keras, tawuran antar remaja, dan yang sejenisnya”.
Pembentukan disiplin merupakan salah satu dari peraturan sekolah. Guru BK memberikan pelayanan informasi tentang disiplin dalam lingkungan sekolah. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Prayitno (2004:197) yang menyatakan bahwa salah satu jenis layanan bimbingan konseling adalah “Layanan BK yang memungkinkan peserta didik menerima dan memahami berbagai informasi yang dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan dan pengambilan keputusan untuk kepentingan peserta didik”.[6]
3.    SMA NEGERI 1 AMBON
Di SMA Negeri 1 Ambon, sering dijumpai oleh pengawas ruang ketika ulangan atau tes, sebagian siswa menyontek jawaban ke temn-temannya, ada pula yang menyontek secarik kertas yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Fakta yang ditemui dilapangan adalah hampir semua peserta didik yang bermasalah (menyontek), setelah diberikan layanan BK terpadu, maka terdapat perubahan positif, banyak dari mereka berkata dan berjanji bahwa tidak akan mengulangi masalahnya lagi (menyontek lagi), mereka menyadari perilaku buruk yang mereka lakukan adalah suatu pelanggaran terhadap kesepakatan sekolah, dalam hal melanggar tata tertib.[7]
Tetapi setelah dilibatkan dalam sesi konseling, observasi, hasil pengamatan guru BK, terdapat perubahan positif peserta didik yang mengarah kepada pola belajar kemandirian sehingga mereka dapat mengatasi masalah yang dihadapi, misalnya : meninggalkan perilaku menyontek. Penanganan maslah menyontek biasanya dimulai dari laporan pengawas ruang yang melaporkan peserta didik yang kedapatan menyontek saat ujian berlangsung, selanjtnya guru BK menindaklanjuti dengan cara melakukan layanan bimbingan kelompok di ruangan BK.
Pada saat bimbingan kelompok ini, konselor memberikan pelayanan bimbingan kepada peserta didik melalui kelompok-kelompok kecil (5-10 orang). Bimbingan ini ditujukan untuk merespon kebutuhan dan minat para peserta didik. Topik yang didiskusikan dalam bimbingan kelompok ini, adalah masalah yang bersifat umum (common problem) dan tidak rahasia, seperti : cara-cara belajar yang efektif, kiat-kiat menghadapi ujian, dan mengelola stress.[8]
Tahap selanjutnya adalah Follow Up. Pada tahap ini, guru BK memonitoring (peer counseling, konseling individu, bimbingan lanjutan) dan tentu guru BK menggunakan berbagai teknik, salah satunya adalah analisis hasil belajar yang didapatkan dari hasil ulangan/tes dan berkolaborasi dengan guru mata pelajaran, sehingga data yang diperoleh dapat reliable dan valid, selanjutnya adalah diagnosa data yang dapat digunakan untuk mengetahui apakah ada perubahan sikap peserta didik sebelum diberikan layanan konseling dan setelah mendapatkan layanan BK.[9]
4.      SMK NEGERI 1 SURABAYA
                            Dalam jurnal lain yang kami baca dan kami temukan jurnal tentang  penerapan bimbingan kelompok teknik grup exercise untuk meningkatkan hubungan interpersonal siswa kelas X program keahlian akomodasi perhotelan di SMKN 1 Surabaya. Berdasarkan pengamatan peneliti saat melaksanakan Praktek Kerja Lapangan di SMK Negeri 1 Surabaya pada semester ganjil, peneliti menemukan beberapa kelas dengan beberapa individu di dalamnya yang cenderung diam, tidak memiliki teman saat berkelompok, duduk sendirian di saat satu bangku terdapat dua kursi, pemalu, menyendiri. Adanya sikap saling memperolok di dalam kelas dan ada yang diam saja ketika diolok ada pula yang agresif membalasnya dengan berteriak atau bahkan langsung memukul. Kemudian hasil wawancara peneliti pada beberapa siswa dikelas X bidang keahlian Akomodasi Perhotelan dan teknik komputer jaringan, beberapa diantaranya menyatakan bahwa mereka memiliki teman yang menyendiri bahkan sering kecewa karena merasa disalahkan guru mata pelajaran ketika siswa yang menyendiri tidak mendapatkan kelompok, dan ketika diajak responnya cenderung pasif dan diam. Bahkan sempat ada perkelahian dan tawuran yang setelah diusut karena saling pandang mengejek dan mengolok yang melibatkan kelas  X, XI ,dan XII bahkan terindikasi keikutsertaan siswa dari sekolah lain dalam suatu wilayah. Padahal siswa yang berkelahi tidak saling mengenal sebelumnya.[10]
Pada proses wawancara kepada siswa yang pendiam, siswa menjawab tidak ada apa-apa dengan malu-malu dan menunduk sedangkan pada siswa yang secara agresif membalas olokan bahkan sampai berkelahi mereka meras itu cara yang baik untuk membalasnya. Kemuadian wawancara kepada siswa yang sering mengolok, mereka menyatakan bahwa yang diolok memang pantas diolok seperti itu. Terdapat pula siswa yang menjawab dengan tegas bahkan dia bisa sendiri tanpa ada teman-teman, sehingga siswa tersebut sering menjadi bahan tertawaan dan kekecewaan teman-teman sekelasnya. Adapun hasil wawancara dengan salah satu guru BK, beliau menyatakan juga terdapat siswa yang baik nilai akademisnya namun siswa tersebut cenderung pendiam dan menyendiri yakni dibidang keahlian multimedia pada hasil psikotes kelas X AP-2 ditemukan rata-rata kemampuan interpersonal siswa sebesar 6,6 termasuk dalam kriteria sedang.
Dengan demikian, guru BK atau Konselor sangat diharapkan mampu mengembangkan layanan bimbingan dan konseling komprehensif. Menurut rizkiyah (2017) faktor penting yang berpengaruh terhadap operasionalisasi PerMenDikbud No 111 Tahun 2014 yang menegaskan implementasi program bimbingan dan konseling komprehensif adalah pengawasan, walaupun telah dilakukan sosialisasi dan pelatihan kepada guru BK tetapi bila tidak ada tindak lanjut monitoring ke sekolah maka tidak akan terealisasi dengan baik. dari perspektif tersebut,  penulis membahas bagaimana implementasi program bimbingan dan konseling komprehensif dan analisis pengembangan standart kompetensi siswa.[11]
Penelitian dilakukan pada tanggal 3 Desember  2012 sampai 8 Januari 2013 di 4 sekolah berbeda. Didalam penelitian ini terdapat 2 pedoman wawancara yaitu, pedoman wawancara untuk konselor dan siswa yang ditunjukkan memberikan gambaran mengenai program, pelaksanaan, hasil, hambatan, serta evaluasi dan pelaporan hasil layanan hasil konseling individual. Kedua pedoman diatas menggunakan aspek yang sama namun dengan pengembangan pernyataan yang berbeda, dengan maksud untuk trianggulasi data dari wawancara dengan konselor dan siswa. Mengenai pelaksanaan hasil konseling individual di SMK Negeri Surabaya Selatan adalah sebagai berikut:
1.    Program konseling individual SMK Negeri Surabaya Selatan
2.    Mekanisme pelaksanaan konseling individual SMK Negeri Surabaya Selatan
3.    Hasil konseling indivual SMK Negeri Surabaya Selatan
4.    Hambatan konseling individual SMK Negeri Surabaya Selatan
5.    Mengatasi hambatan konseling individual SMK Negeri Surabaya Selatan
6.    Evaluasi dan pelaporan konseling individual SMK Negeri Surabaya Selatan[12]
5.    MAN 2 TULUNGAGUNG
                                 Hasil dan pembahasan Man 2 Tulungagung dalam peyusunan kurikulum bimbingan dan konseling (curiculum guindace), konselor dibantu guru bidang studi dalam hal assesment. Bantuan yang dilakukan merupakan bentuk kerjasama yang baik, dimana guru bidang studi atau wali kelas, kepala sekolah, pegawai administrasi juga merupakan petugas  bimbingan yang mana juga memiliki andil dalam kesuksesan program bimbingan dan konseling. Oleh karenanya, antara pemangku kebijakan di sekolah, guru, beserta staf-stafnya perlu menyadari dan memahami bahwa masing-masing dari bagian yang ada di sekolah juga merupakan petugas bimbingan.
Temuan di lapangan menunjukkan bahwa bentuk kerjasama yang dilakukan antara konselor dan guru wali kelas/ guru mata pelajaran dalam hal layanan responsif, dimana guru wali kelas dan guru bidang studi mencoba menyelesaikan permasalahan anak, akan tetapi karena dirasa tidak efektif maka dilakukan referal kepada konselor. Fungsi bimbingan dan konseling seperti mediasi, fasilitasi, advokasi, penyembuhan dikerjakan secara bersama-sama antara konselor dan guru wali kelas/ bidang studi, demi memfasilitasi perkembangan peserta didik. Selain itu, temuan di MAN 2 Tulungagung menunjukkan kerjasama yang dilakukan guru bimbingan dan konseling (konselor) tidak hanya bersifat internal (di dalam sekolah), akan tetapi juga eksternal seperti (Orangtua, Kepolisian, BNN, Kesehatan, Balai Kerja, Perusahaan, Perguruan Tinggi, dll). Kerjasama yang dilakukan perlu demi tercapainya potensi optimal peserta didik, karena perkembangan peserta didik tidak hanya ditunjang oleh sekolah tempat peserta didik tersebut belajar, tapi juga lingkungan dimana peserta didik tersebut berada. Kerjasama lembaga-lembaga atau instansi-instansi lain merupakan bentuk dari komitmen sekolah, dimana permasalahan yang muncul peserta didik saat ini sangatlah kompleks, oleh sebab itu perlu adanya kerjasama dengan instansi atau lembaga lain di luar sekolah.[13]
C.    PERAN KONSELOR DALAM PEGEMBANGAN KESUKSESAN BELAJAR DAN KARIER SISWA
1.      Peran Konselor dalam Mengembangkan Karier Siswa Sekolah Menengah Kejuruhan (SMK) Melalui Kewirausahaan sebagai Modal di Era MEA”
Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) merupakan realisasi pasar bebas di Asia Tenggara yang sebelumnya telah dibuat Framework Agreement on Enhancing ASEAN Economic Coorperation pada tahun 1992. Adanya pasar bebas menimbulkan peluang sekaligus tantangan bagi negara anggota MEA, sehingga setiap negara anggota perlu menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang kreatif, inovatif dan kompetitif supaya mampu bersaing dengan negara anggota MEA lainnya. Upaya dalam menyiapkan SDM yang unggul yaitu melalui pendidikan. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) merupakan bagian dari sistem pendidikan formal. Tujuan pendidikan menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 pasal 3 mengenai tujuan pendidikan nasional dan penjelasan pasal 15 menyebutkan bahwa pendidikan kejuruan merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja di bidang tertentu, sehingga pendidikan kejuruan sebagai salah satu bagian dari sistem pendidikan nasional memainkan peran yang sangat strategis bagi terwujudnya angkatan tenaga kerja nasional yang terampil dan siap kerja setelah lulus sekolah, namun faktanya lulusan SMK masih banyak yang belum mendapatkan pekerjaan.
Menurut Miller (Utoyo, 1997) untuk menjalankan perannya dalam mengembangkan karier siswa SMK, konselor dapat menggunakan beberapa strategi/ metode yaitu :[14]
1.      Achievement Motivation Training :
Metode yang digunakan dengan memberikan motivasi siswa untuk memperoleh kesuksesan dengan dibantu untuk memahami karakteristik berprestasi tinggi dan bagaimana siswa mencapainya. Konselor dapat menggunakan metode ini untuk memotivasi siswa supaya memiliki kepercayaan diri untuk berwirausaha, baik saat masih duduk dibangku sekolah maupun setelah lulus sekolah.
2.      Assesment Techniques :
Penggunaan yang terstandar dan teknik pengukuran yang lain untuk mengukur karakteristik siswa. Konselor dapat menggunakan tes bakat dan tes minat untuk mengetahui bakat dan minat siswa, sehingga konselor mengarahkan siswa untuk berwirausaha tanpa mengesampingkan kemampuan serta minat siswa.
3.      Behaviour Modification Techniques :
Metode yang digunakan konselor membantu siswa untuk mempelajari tingkah laku yang diinginkan. Misalnya teknik-teknik yang digunakan: reinforcement, behaviour contracts dan social modeling. Konselor memberikan informasi mengenai contoh orang-orang yang sudah sukses melalui kewirausahaan, hal ini bertujuan untuk mendorong siswa supaya yakin bahwa wirausaha juga bisa sukses.
4.      Career Days :
Hari-hari tertentu yang dipilih dan ditetapkan untuk melaksanakan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan pengembangan karier. Konselor membuat program dimana pada hari yang sudah ditentukan
siswa memasarkan produk yang telah dibuatnya sendiri. Kegiatan ini bisa dilakukan di sekolah (bazar) ataupun di luar sekolah. Tujuannya supaya siswa memiliki sifat dan sikap mandiri secara financial.
5.      Creative Experience :
Kreatif adalah kapasitas siswa yang meliputi: sikap ingin tahu, banyak akal, berdaya cipta, spontan, dan terbuka. Para siswa diberikan pengalaman untuk mengembangkan kreativitas. Konselor dapat
memanfaatkan keingintahuan siswa untuk memberikan informasi-informasi yang dibutuhkan untuk menunjang karier siswa di masa depan.
6.      Decition Making Training :
Teori perkembangan karier menekankan pentingnya pengambilan keputusan yang menekankan pada komponen-komponen:
(1) Eksplorasi dan klasifikasi-klasifikasi nilai-nilai pribadi,
(2) Studi proses yang dapat dipelajari,
(3) Penggunaan data diri pribadi (self) dan lingkungan.
Ketiga komponen tersebut dapat menunjang siswa untuk berwirausaha, misal data lingkungan. Siswa menganalisis lingkungan tempat tinggal mereka dan memanfaatkan peluang untuk membuka usaha yang cocok di lingkungan sekitar. Selain lingkungan pasar, siswa dibantu dengan konselor menganalisis peluang usaha di era MEA. Economic and consumer education. : Program ini bertujuan: (1) membantu siswa memahami struktur ekonomi masyarakat (Indonesia maupun ASEAN) dan pengaruhnya pada individu, (2) membantu siswa bahwa mereka tidak selalu menjadi pekerja, tetapi mereka juga akan menjadi konsumen dan pelayan yang baik. Konselor memberikan penjelasan bahwa berwirausaha selain untuk kesejahteraan finansial diri sendiri juga dapat membantu orang lain, yaitu dengan membuka lapangan pekerjaan kepada mereka yang membutuhkan.
7.      Field Trips :
Metode ini merupakan pendekatan bimbingan karier yang diberikan kepada siswa dengan memberikan kesempatan untuk mengadakan observasi kehidupan riil terhadap dunia kerja. Konselor bersama guru kewirausahaan mengadakan kunjungan ke institusi/ lembaga penghasil produk ataupun lembaga penyedia jasa guna memberikan gambaran nyata kepada siswa kondisi riil di lapangan.

8.      Group Guidance And Counseling :
Pemberian dan klasifikasi informasi yang dibutuhkan dalam perencanaan karier melalui konseling. Layanan bimbingan dan konseling diperuntukkan bagi semua siswa tanpa pandang bulu. Seyogyanya konselor memasukkan alternatif berwirausaha dalam perencanaan karier siswa.
9.      Individualized Education :
Pendekatan pendidikan para siswa diminta bertanggungjawab untuk mengatur kegiatan belajarnya sendiri. Peranan konselor/ guru mengorganisir sumber belajar, motivasi siswa dan memimpin kelompok kecil dalam pengalaman belajar.
10.  Intergroup Education :
Teknik ini menekankan pada sumbangan khusus dan kelompok budaya yang beraneka ragam, membantu anggota kelompok budaya merasakan, menghargai dalam anggota kelompok. Pada era MEA, berbagai macam budaya dari berbagai negara akan masuk ke Indonesia. Oleh karena itu, konselor seyogyanya memberikan pemahaman mengenai keanekaragaman budaya di Indonesia maupun di negara lainnya.
11.  Media :
Media merupakan macam-macam metode informasi komunikasi yang meliputi tulisan, audio visual. Media digunakan sebagai alat informasi komunikasi dalam bimbingan. Layanan bimbingan konseling hendaknya tidak hanya bimbingan klasikal, tetapi konselor dapat memberikan informasi melalui web yang khusus dibuat untuk memberikan layanan kepada siswa, bukan hanya informasi, tetapi siswa diijinkan untuk mengeluhkan terkait diri siswa. Selain itu, konselor juga dapat menggunakan teknik cybercounseling untuk memberikan layanan konseling kepada siswa.
12.  Mobile Service :
Layanan dalam bimbingan karier yang diarahkan pada wahana yang terkandung dalam diri siswa sendiri. Layanan ini memberikan informasi-informasi yang dibutuhkan oleh siswa, termasuk peluang untuk menjadi wirausaha di era MEA.
13.  Occupational Information System :
Metode yang terorganisir, meliputi: pengumpulan, penggunaan,
penarikan kembali, dan menginterpretasi informasi-informasi karier. Hampir sama dengan asesmen, metode ini bisa digunakan untuk memberikan pemahaman kepada siswa tentang diri dan lingkungannya.
14.  Placement :
Suatu program yang membantu siswa untuk memilih, melaksanakan dan keberhasilan masuk pendidikan yang lebih tinggi atau mendapat pekerjaan. Konselor perlu menambahkan kewirausahaan dalam teknik ini.
15.  Prevocational Exploratory Programs :
Program ini bertujuan untuk membantu siswa mengenal dan
memahami hubungan antara sekolah dan dunia kerja. Teori perkembangan karier menunjukkan bahwa para siswa membutuhkan aplikasi pengalaman bimbingan karier dan kesempatan untuk menngungkapkan bermacammacam bidang pekerjaan agar dapat membuat keputusan yang berkaitan dengan karier.
16.  Role Playing :
Suatu pendekatan dalam bimbingan karier yang memberikan kesempatan kepada siswa memahami perilaku orang lain, daripada dirinya sendiri, dan berperilaku dengan suatu cara yang konsisten
sebagaimana persepsinya dalam suatu peranan tertentu.
17.  Simulation :
Suatu teknik dalam bimbingan karier yang memberikan kesempatan siswa untuk berpartisispasi dalam situasi paralel dengan situasi kehidupan yang nyata. Konselor dapat mengangkat permainan rakyat “pasaran” untuk mensimulasikan bagaimana sistem perdagangan pasar bebas di era MEA.
18.  Social Modeling :
Para siswa diberi kesempatan untuk mempelajari sikap-sikap dan perilaku yang baru dengan mengobservasi orang-orang yang dikagumi dan mencontohkan sikap dan perilakunya.
19.  Value Clarification :
Suatu pendekatan pendidikan yang membantu para siswa dalam proses menguji dan mengklarifikasi atau menjernihkan nilai-nilai pribadinya. Hambatan yang mungkin dialami konselor dalam meyakinkan siswa untuk berwirausaha adalah mindset  iswa disertai penguatan dari orangtua yang lebih mempercayakan anaknya menjadi pegawai ketimbang berwirausaha. Dalam hal ini konselor berusaha untuk menjernihkan nilai-nilai pikiran siswa mengenai wirausaha. Konselor memberikan gambaran yang jelas mengenai kelebihan dan kelemahan dalam berwirausaha.
20.  Work Experience Programs :
Suatu program yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk
menggabungkan studi di kelas dengan pengalaman kerja dalam kehidupannya atau dalam situasi kerja yang aktual. SMK memiliki program PRAKERIN untuk memberikan pengalaman kepada siswa dalam bekerja secara nyata. Selain PRAKERIN, guru kewirausahaan dapat mengusulkan sebuah program untuk mengaplikasikan pembelajaran kewirausahaan dalam kehidupan sehari-hari siswa secara nyata dan bukan hanya teori, sedangkan konselor juga ikut memantau bagaimana perkembangan siswa dalam menjalani kegaitan wirausaha.
21.  Resource person :
Pemberian informasi tentang karier dapat pula dilakukan dengan mendatangkan orangorang sumber untuk memberikan ceramah mengenai pekerjaan tertentu. Penting sekali untuk memberikan bukti nyata, dalam hal ini yaitu bukti nyata kesuksesan seorang wirausaha dalam menjalani bisnisnya. Konselor mendatangkan orang-orang yang sukses dalam berwirausaha, mereka diminta untuk menceritakan bagaimana cara menjalankan kegiatan wirausaha mulai dari nol sampai mereka sukses seperti sekarang.
Beberapa strategi/ metode di atas terselip peran konselor dan peran guru mata pelajaran dalam mendukung siswa untuk berwirausaha. Berwirausaha memerlukan komitmen dan kemauan yang kuat untuk berkarya dalam menghasilkan produk dan memberikan jasa pelayanan yang berkualitas dengan semangat kemandirian, kemauan memecahkan masalah dan membuat keputusan secara sistematis, termasuk keberanian mengambil resiko usaha, kemauan berpikir dan bertindak secara kreatif dan inovatif, kemauan bekerja secara teliti, tekun dan produktif, kemauan berkarya dalam kebersamaan berlandaskan etika bisnis yang sehat.
2.      Peran Guru Bimbingan dan Konseling dalam Meningkatkan Kesuksesan Belajar Siswa
Dalam jurnal EDUKASI Volume 3 Nomor 1 tahun 2017 karya Mahdi dengan judul “Peran Guru Bimbingan dan Konseling dalam Meningkatkan Kesuksesan Belajar Siswa di SMA Negeri 1 Depok Sleman Yogyakarta” Keterlibatan atau peran guru BK dalam meningkatkan kesuksesan belajar siswa di sekolah yaitu melalui program bimbingan klasikal, yaitu diberikan materi berupa cara meningkatkan percaya diri, saya dan cita- cita, kiat- kiat menjadi orang kreatif, mengatasi jenuh,bosan&mengantuk saat belajar, pemilihan karir sesuai potensi, meningkatkan konsentrasi belajar, dan tips memulai hari yang cerah. Kemudian program bimbingan konseling karir, berupa pemberian materi informasi peminatan, pemantapan pilihan jurusan, Bimbingan Kelanjutan Studi, Bimbingan Khusus Menghadapi UAN-UM-masuk Perguruan Tinggi, Pendampingan siswa untuk mendapatkan PTN/PTS, Carier- Day, Tes Masuk PTS Terakreditasi, dan Pengenalan Dunia Kampus. Selain itu program lain yang diberikan pada siswa adalah bimbingan dan konseling pribadi, bimbingan dan konseling sosial, dan bimbingan dan konseling belajar.[15]
Berbagai kegiatan pendukung di SMA Negeri 1 Depok Sleman Yogyakarta yaitu sebagai berikut :
1.      Program Intensifikasi yaitu program berupa tambahan jam pelajaran untuk kelas 12 sebelum dan sesudah kegiatan belajar mengajar (KBM). Program ini dilaksanakan setelah jam pelajaran selesai yang mirip dengan program les tambahan.
2.      Program belajar tambahan untuk kelas 10 dan 11 untuk menghadapi Ujian Akhir Semester agar prestasi belajar siswa memuaskan.
3.       Program intensifikasi berisi materi Ujian Akhir Nasional dan Persiapan masuk keperguruan tinggi bagi kelas 12 yang akan segera lulus.
4.      Pameran pendidikan yaitu mengundang beberapa perguruan tinggi yang ada di Yogyakarta seperti UGM, UNY, UIN SUKA untuk memberikan gambaran tentang mata kuliah yang akan dipelajari dari berbagai jurusan yang ada, dan dipersiapkan sesuai dengan jurusan masing-masing siswa dengan harapan siswa dapat diterima di Perguruan Tinggi akan akan dimasuki.
5.      Program ekstrakulikuler untuk mengembangkan minat dan bakat siswa yang terdiri dari cheleeders, tonti, basket,voli, bela diri, batik, drama, futsal, pramuka, PALA, PMR, silat, paduan suara, PASKIBRAKA.





DAFTAR PUSTAKA

Dani, Yusrah, Dkk “Studi Kasus Tentang Perilaku Disiplin Siswa Sma Negeri 1 Kuta Panjang”, Jurnal Ilmiah Mahasiswa Bimbingan dan Konseling Volume 3 Nomor 3 tahun 2018.
Galuh Widyarto, WikanKerja Sama Antara Konselor Dengan Guru Bidang Studi, Nusantara Ofresearch, volume 04, nomer 02, Oktober 2017.
Istiqomah, Nanda “Peran Konselor dalam Mengembangkan Karier Siswa Sekolah Menengah Kejuruhan (SMK) Melalui Kewirausahaan sebagai Modal di Era MEA”, S E M I N A R A S E A N 2nd PSYCHOLOGY & HUMANITY, Psychology Forum UMM, 19 – 20 Februari 2016.
Kamaruzzaman, “Analisis Faktor Penghambat Kinerja Guru Bimbingan Dan Konseling Sekolah Menengah Atas”, SOSIAL HORIZON: Jurnal Pendidikan Sosial Vol. 3, No. 2, 2016.
Khofifah, Aulia, Dkk “Permasalahan yang Disampaikan Siswa Kepada Guru BK/Konselor”, Jurnal EDUCATIO Volume 3 Nomor 1, 2017.
Krisnawati, Erna Penerapan Bimbingan Kelompok Teknik Group Exercise Untuk Meningkatkan Hubungan Interpersonal Siswa Kelas X Program Keahlian Akomodasi Perhotelan di SMKN 1 Surabaya,  volume 02 Tahun 2015.
Mahdi, Peran Guru Bimbingan dan Konseling dalam Meningkatkan Kesuksesan Belajar Siswa di SMA Negeri 1 Depok Sleman Yogyakarta”, Jurnal EDUKASI Vol. 3, No. 1, 2017
Muh Farozin, dkk “Identifikasi Permasalahan Perancangan Program Bimbingan Dan Konseling Pada Guru Smk Di Kota Yogyakarta”, Jurnal  Penelitian Ilmu Pendidikan Volume 10 nomor 1, 2017.
Nur Fajrini, Ashriani ”Studi Pelaksanaan Kongseling Individual di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri Surabaya Selatan Volume 01 Tahun 2015.
Purwaningrum, Ribut  Bimbingan Dan Konseling Komprehensif  Sebagai Pelayanan Prima Konselor”, Jurnal Ilmiah Konseling , BK FKIP UTP, Vol 18 (1), Januari 2018.
Purwatib, “Efektifitas Layanan Bimbingan dan Konseling Untuk Mengatasi Masalah Menyontek dan Pengaruhnya terhadap Prestasi Belajar Siswa SMA Negeri 11 Ambon”, Jurnal Bimbingan dan Konseling Terapan, Volume 02 Number 01, 2018.
Putra Bhakti, Caraka ”Program Bimbingan dan Konseling Komperehensif” Jurnal Konseling Andi Matappa,volume,1, nomer,1,Februari 2017.



[1]Kamaruzzaman, “Analisis Faktor Penghambat Kinerja Guru Bimbingan Dan Konseling Sekolah Menengah Atas”, SOSIAL HORIZON: Jurnal Pendidikan Sosial Vol. 3, No. 2, 2016, hlm. 232.
[2]Ibid., 240.
[3]Muh Farozin, dkk “Identifikasi Permasalahan Perancangan Program Bimbingan Dan Konseling Pada Guru Smk Di Kota Yogyakarta”, Jurnal  Penelitian Ilmu Pendidikan Volume 10 nomor 1, 2017, hlm. 51.
[4] Aulia Khofifah, Afrizal Sano&Yarmis Syukur, “Permasalahan yang Disampaikan Siswa Kepada Guru BK/Konselor”, Jurnal EDUCATIO Volume 3 Nomor 1, 2017, hlm. 46.
[5]Yusrah Dani, Nur Janah, &Hetti Zuliani, “Studi Kasus Tentang Perilaku Disiplin Siswa Sma Negeri 1 Kuta Panjang”, Jurnal Ilmiah Mahasiswa Bimbingan dan Konseling
Volume 3 Nomor 3 tahun 2018
, hlm.15.
[6] Ibid,.
[7] Purwatib, “Efektifitas Layanan Bimbingan dan Konseling Untuk Mengatasi Masalah Menyontek dan Pengaruhnya terhadap Prestasi Belajar Siswa SMA Negeri 11 Ambon”, Jurnal Bimbingan dan Konseling Terapan, Volume 02 Number 01, 2018, hlm.41-42.
[8] Ribut Purwaningrum, “Bimbingan Dan Konseling Komprehensif Sebagai Pelayanan
Prima Konselor”, Jurnal Ilmiah Konseling , BK FKIP UTP, VoL18 (1), Januari 2018,hlm. 22.
[9] Purwatib, “Efektifitas Layanan Bimbingan dan Konseling Untuk Mengatasi Masalah Menyontek dan Pengaruhnya terhadap Prestasi Belajar Siswa SMA Negeri 11 Ambon”, Jurnal Bimbingan dan Konseling Terapan, Volume 02 Number 01, 2018, hlm.41-42.
[10]Erna Krisnawati, Penerapan Bimbingan Kelompok Teknik Group Exercise Untuk Meningkatkan Hubungan Interpersonal Siswa Kelas X Program Keahlian Akomodasi Perhotelan di SMKN 1 Surabaya,  volume 02 Tahun 2015. Hlm.2.
[11]Caraka Putra Bhakti, ”Program Bimbingan dan Konseling Komperehensif”, Jurnal Konseling Andi Matappa,volume,1, nomer,1,februari 2017, hlm 131-141.
[12]Ashriani Nur Fajrini, ”Studi Pelaksanaan Kongseling Individual di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri Surabaya Selatan Volume 01Tahun 2015, hlm 07.
[13]Wikan Galuh Widyarto, Kerja Sama Antara Konselor Dengan Guru Bidang Studi, Nusantara Ofresearch, volume 04, nomer 02, Oktober 2017. hlm 101.
[14] Nanda Istiqomah, “Peran Konselor dalam Mengembangkan Karier Siswa Sekolah Menengah Kejuruhan (SMK) Melalui Kewirausahaan sebagai Modal di Era MEA”, S E M I N A R A S E A N
2nd PSYCHOLOGY & HUMANITY, Psychology Forum UMM
, 19 – 20 Februari 2016.
[15] Mahdi, Peran Guru Bimbingan dan Konseling dalam Meningkatkan Kesuksesan Belajar Siswa di SMA Negeri 1 Depok Sleman Yogyakarta”, Jurnal EDUKASI Vol. 3, No. 1, 2017., 12-13.

0 komentar