MENGIDENTIFIKASI
TUGAS KONSELOR PADA JENJANG PENDIDIKAN SMA, SMK
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Bimbingan Konseling
Dosen pengampu :
Nila Zaimatus Septiana, M.Pd
Disusun oleh :
Dina Wulan Arum (932117617)
Mida Latifatul Muzamiroh (932116717)
Nurul Fitri Wulandari (932118117)
Rochmatun Nisak (932106117)
Kelompok
10
JURUSAN
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) KEDIRI
2019
PENDAHULUAN
Siswa pada jenjang pendidikan SMA/SMK adalah
siswa usia remaja yang berada pada periode transisi yaitu antara masa anak-anak
dalam kehidupan orang dewasa. Dimana pada periode ini siswa remaja akan
mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri untuk menempuh kehidupan sebagai
calon orang dewasa. Siswa remaja akan mengalami kebingungan menghadapi diri
sendiri dan sikap-sikap orang disekitarnya yang sering memperlakukan mereka
sebagai anak-anak, namun sering juga menuntut mereka bertingkah laku dewasa.
Masalah yang muncul dan dirasakan siswa akan mengakibatkan terganggunya
kegiatan belajar siswa. Seperti yang dikemukakan oleh Syamsu Yusuf &
Juntika Nurihsan (2009;212) yang menyatakan bahwa perasaan yang akan timbul
dari tidak terselesaikannya suatu masalah yang dialami oleh individu yaitu perasaan
rendah diri, perasaan tidak mampu, perasaan gagal dan perasaan bersalah. Dengan
mengalami berbagai masalah tersebut, siswa berkeinginan untuk menyampaikan
permasalahan yang dialaminya kepada guru BK/Konselor. Disinilah peran konselor
sangat dibutuhkan untuk mengawal perkembangan psikis siswa remaja dalam
menghadapi permasalahannya.
A. MASALAH YANG DIHADAPI KONSELOR/GURU BK
1. Jenjang SMA
Keberadaan Konselor dalam Sistem
Pendidikan Nasional dinyatakan sebagai salah satu kualifikasi pendidik, sejajar
dengan kualifikasi guru, dosen, pamong belajar, tutor, widyaiswara,
fasilitator, dan instruktur (UU No. 20 Tahun 2003 pasal 1 Ayat 6).Kegiatan
pelayanan yang konselor diberikan kepada konseli yang datang kepada konselor
untuk memecahkan masalahnya, tidaklah selalu berhasil dengan baik. Hal ini
disebabkan oleh hambatan-hambatan atau rintangan-rintangan yang mungkin datang
dari konseli atau konselor itu sendiri. Hambatan-hambatan yang mungkin datang
atau berasal dari konseli dapat berupa hal-hal sebagai berikut :
a. Konseli tidak terbuka sepenuhnya
kepada konselor atas persoalan yang sedang dihadapi;
b. Konseli merasa tidak bebas untuk
mengungkapkan persoalannya;
c. Suasana di sekitaran tempat
pelayanan kurang nyaman/aman sehingga membuat konseli enggan menyampaikan permasalahannya;
d. Konseli tidak percaya kepada
konselor untuk dapat membantu menyelesaikan persoalan yang sedang dihadapinya,
terutama bagi konseli yang dipanggil.[1]
Hambatan tersebut tidak hanya
dialami berasal dari dalam diri klien, akan tetapi permasalahan lain juga
berasal dari dalam diri konselor itu sendiri. Sementara itu, hambatan-hambatan
yang mungkin datang dari seorang konselor biasanya disebabkan oleh kurangnya kemampuan
/penguasaan seorang konselor dalam menggunakan teknik-teknik konseling, baik itu
verbal maupun non verbal, sehingga masalah yang dialami siswa tidak terungkap
dengan jelas. Selain itu, juga mungkin disebabkan oleh ketidakmampuan seorang
konselor dalam membina hubungan yang baik dengan konseli pada saat/permulaan
konseling, sehingga membuat konseli merasa tidak bebas untuk mengungkapkan
masalahnya, terutama bagi konseli yang dipanggil. Permasalahan lain yang tidak
kalah pentingnya dialami konselor adalah masalah eksternal baik itu dari teman
sejawat yang menganggap negatif keberadaan konselor, dan sistem yang tidak
mendukung keberadaan layanan bimbingan dan konseling di sekolah.
Pada hakekatnya bimbingan dan
konseling di sekolah terselenggara bila siswa secara aktif mau menemui konselor
untuk melaksanakan konseling. Di sekolah konseling dapat diupayakan
keterlaksanaannya dalam tiga bentuk yaitu inisiatif konselor memanggil siswa,
inisiatif siswa untuk mendatangi konselor atau inisiatif pihak atau guru lain
sebagai perantara. Adapun ketentuan untuk memanggil siswa berdasarkan inisiatif
konselor ataupun melalui perantara pihak lain menempuh cara berikut:
a. Panggilan didahului oleh analisis
yang mendalam;
b. Panggilan dengan bahasa yang halus
dan tidak ada unsur paksaan;
c. Panggilan beralasan untuk
kepentingan siswa;
d. Panggilan tidak merugikan siswa
dari segi kerahasiaan atau yang merugikan belajar siswa. Sedangkan inisiatif
siswa untuk mendatangi konselor secara sukarela adalah hal yang ideal untuk
terselanggaranya konseling yang baik.[2]
2. Jenjang SMK
Berdasarkan
hasil analisis data dalam Jurnal Penelitian Ilmu Pendidikan Volume 10 nomor 1
tahun 2017 oleh Muh Farozin, Suwarjo,
Budi Astuti, Khairi Bintani, Ade Syarifah, dan Shufiyanti Arfalah dengan
judul“Identifikasi Permasalahan Perancangan Program Bimbingan Dan Konseling
Pada Guru Smk Di Kota Yogyakarta”, dapat diketahui bahwa pada proses
perancangan program bimbingan dan konseling, guru bimbingan dan konseling
mengalami permasalahan pada aspek:
(1) Evaluasi pelaporan dan tindak lanjut yang
meliputi keterampilan membuat rancangan evaluasi program, evaluasi layanan,
pelaporan pelaksanaan program dan rekomendasi tindak lanjut, serta keterampilan
menggunakan software analisis instrumen program bimbingan dan konseling,
tidak memiliki software analisis instrumen evaluasi program, serta
kondisi yang kurang dan tidak baik pada instrumen dan software analisis
instrumen evaluasi program bimbingan dan konseling;
(2) Anggaran
biaya, yaitu keterampilan membuat rencana anggaran biaya operasional layanan
bimbingan dan konseling dan pengembangan profesi;
(3) Sarana
prasarana, meliputi keterampilan membuat rencana pengadaan sarana prasarana
bimbingan dan konseling dan pada dukungan warga sekolah dalam membuat rincian
sarana prasarana bimbingan dan konseling, tidak memiliki ruang konseling
pustaka, kondisi ruang bimbingan dan konseling kelompok, ruang data, ruang
konseling pustaka, dan kondisi fasilitas penunjang yang berupa alat pengumpul
data berupa tes yang kurang dan tidak baik; serta
(4) Ekuivalensi jam layanan bimbingan dan
konseling dengan mata pelajaran yaitu keterampilan membuat ekuvalensi jam
layanan bimbingan dan konseling dengan jam mata pelajaran.[3]
B. UPAYA KONSELOR/ GURU BK DALAM MENANGANI
PERMASALAHAN SISWA DI SMA/SMK
1. SMA NEGERI 13 PADANG
Berdasarkan hasil wawancara penelitian di SMA
Negeri 13 Padang tanggal 9 Oktober 2012 pada jurnal yang kami kutip, menyatakan
bahwa siswa yang datang baik dipanggil, datang sendiri maupun rekomendasi
menceritakan tentang permasalahan pribadi belajar, sosial dan karir, kebanyakan
siswa yang konsultasi membahas masalah berkaitan dengan keadaan fisik yang
kurang menarik, mengenai hubungan muda-mudi, masalah siswa yang tidak
konsentrasi dalam belajar, mengenai masalah sosial yang terjadi dikalangan
siswa diantaranya adalah masalah tidak patuh terhadap tata tertib dan kurang
sopan terhadap guru dan teman-temannya. Sedangkan dalam masalah karir yaitu
tentang pilihan jurusan yang membuat siswa kebingungan. Dari permasalahan itu
ada beberapa faktor yang mendorong siswa untuk mengeluhkan masalahnya kepada
guru BK. Dari hasil wawancara penulis jurnal yang kami kutip, mengatakan bahwa
mereka yang datang kepada guru BK karena adanya dorongan dari teman sekelas,
sahabat, dan wali kelas.[4]
2. SMA NEGERI 1 KUTAPAJANG
Berbeda
dengan penelitian yang dilakukan oleh Yusrah Dani,
Nur Janah & Hetti Zulianidi SMA Negeri 1 Kutapajang Kab.Gayo Lues yang menunjukkan
bahwa pelanggaran perilaku disiplin siswa SMA Negeri 1 Kutapanjang Kab. Gayo
Lues terbagi tujuh, yaitu datang sekolah tidak tepat waktu, merokok, membolos,
berkelahi, tidak mengerjakan PR ( tugas sekolah), tidak jujur dan menyontek.
Upaya yang diberikan guru BK terhadap perilaku disiplin siswa disekolah adalah
memberikan layanan bimbingan dan konseling kepada siswa dan mengarahkan serta menginformasikan
tentang perilaku disiplin, dan peraturan- peraturan yang telah ditentukan oleh
sekolah dan harus dipatuhi oleh semua siswa. Penyampaian informasi tentang
peraturan tata tertib sekolah dilakukan oleh guru BK/ pembimbing pada saat
penerimaan calon siswa/murid tahun ajaran baru.[5]
Sehubungan dengan kegiatan
bimbingan dan konseling dalam mengatasi masalah disiplin siswa, maka guru BK di
sekolah memiliki peranan penting dalam kegiatan pembentukan perilaku disiplin
siswa di sekolah. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Moh. Shochib (2010: 11) “Jika dalam era globalisasi tidak ada upaya
untuk mengantisipasi, siswa dapat larut dan hanyut didalamnya. Berkaitan dengan
itu, perubahan yang cepat mengharuskan adanya berbagai upaya terhadap siswa
agar mereka memiliki kemampuan untuk mengantisipasi, mengakomodasi, dan mewarnainya.
Karena anomali era global secara maknawi semakin meningkatkan untuk digandrungi
oleh anak remaja. Misalnya seks bebas, ekstasi; minum minuman keras, tawuran
antar remaja, dan yang sejenisnya”.
Pembentukan disiplin merupakan salah
satu dari peraturan sekolah. Guru BK memberikan pelayanan informasi tentang
disiplin dalam lingkungan sekolah. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Prayitno
(2004:197) yang menyatakan bahwa salah satu jenis layanan bimbingan konseling
adalah “Layanan BK yang memungkinkan peserta didik menerima dan memahami
berbagai informasi yang dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan dan
pengambilan keputusan untuk kepentingan peserta didik”.[6]
3.
SMA NEGERI 1 AMBON
Di SMA Negeri 1
Ambon, sering dijumpai oleh pengawas ruang ketika ulangan atau tes, sebagian
siswa menyontek jawaban ke temn-temannya, ada pula yang menyontek secarik
kertas yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Fakta yang ditemui dilapangan adalah
hampir semua peserta didik yang bermasalah (menyontek), setelah diberikan
layanan BK terpadu, maka terdapat perubahan positif, banyak dari mereka berkata
dan berjanji bahwa tidak akan mengulangi masalahnya lagi (menyontek lagi),
mereka menyadari perilaku buruk yang mereka lakukan adalah suatu pelanggaran
terhadap kesepakatan sekolah, dalam hal melanggar tata tertib.[7]
Tetapi setelah
dilibatkan dalam sesi konseling, observasi, hasil pengamatan guru BK, terdapat
perubahan positif peserta didik yang mengarah kepada pola belajar kemandirian
sehingga mereka dapat mengatasi masalah yang dihadapi, misalnya : meninggalkan
perilaku menyontek. Penanganan maslah menyontek biasanya dimulai dari laporan
pengawas ruang yang melaporkan peserta didik yang kedapatan menyontek saat
ujian berlangsung, selanjtnya guru BK menindaklanjuti dengan cara melakukan
layanan bimbingan kelompok di ruangan BK.
Pada saat bimbingan kelompok ini, konselor
memberikan pelayanan bimbingan kepada peserta didik melalui kelompok-kelompok
kecil (5-10 orang). Bimbingan ini ditujukan untuk merespon kebutuhan dan minat
para peserta didik. Topik yang didiskusikan dalam bimbingan kelompok ini, adalah
masalah yang bersifat umum (common problem) dan tidak rahasia, seperti :
cara-cara belajar yang efektif, kiat-kiat menghadapi ujian, dan mengelola
stress.[8]
Tahap selanjutnya
adalah Follow Up. Pada tahap ini, guru BK memonitoring
(peer counseling, konseling individu, bimbingan lanjutan) dan
tentu guru BK menggunakan berbagai teknik, salah satunya adalah analisis hasil
belajar yang didapatkan dari hasil ulangan/tes dan berkolaborasi dengan guru
mata pelajaran, sehingga data yang diperoleh dapat reliable dan valid,
selanjutnya adalah diagnosa data yang dapat digunakan untuk mengetahui apakah
ada perubahan sikap peserta didik sebelum diberikan layanan konseling dan
setelah mendapatkan layanan BK.[9]
4.
SMK NEGERI 1 SURABAYA
Dalam jurnal lain
yang kami baca dan kami temukan jurnal tentang
penerapan bimbingan kelompok teknik grup exercise untuk
meningkatkan hubungan interpersonal siswa kelas X program keahlian akomodasi
perhotelan di SMKN 1 Surabaya. Berdasarkan pengamatan peneliti saat
melaksanakan Praktek Kerja Lapangan di SMK Negeri 1 Surabaya pada semester
ganjil, peneliti menemukan beberapa kelas dengan beberapa individu di dalamnya
yang cenderung diam, tidak memiliki teman saat berkelompok, duduk sendirian di
saat satu bangku terdapat dua kursi, pemalu, menyendiri. Adanya sikap saling
memperolok di dalam kelas dan ada yang diam saja ketika diolok ada pula yang
agresif membalasnya dengan berteriak atau bahkan langsung memukul. Kemudian
hasil wawancara peneliti pada beberapa siswa dikelas X bidang keahlian Akomodasi
Perhotelan dan teknik komputer jaringan, beberapa diantaranya menyatakan bahwa
mereka memiliki teman yang menyendiri bahkan sering kecewa karena merasa
disalahkan guru mata pelajaran ketika siswa yang menyendiri tidak mendapatkan
kelompok, dan ketika diajak responnya cenderung pasif dan diam. Bahkan sempat
ada perkelahian dan tawuran yang setelah diusut karena saling pandang mengejek
dan mengolok yang melibatkan kelas X, XI
,dan XII bahkan terindikasi keikutsertaan siswa dari sekolah lain dalam suatu
wilayah. Padahal siswa yang berkelahi tidak saling mengenal sebelumnya.[10]
Pada proses
wawancara kepada siswa yang pendiam, siswa menjawab tidak ada apa-apa dengan
malu-malu dan menunduk sedangkan pada siswa yang secara agresif membalas olokan
bahkan sampai berkelahi mereka meras itu cara yang baik untuk membalasnya.
Kemuadian wawancara kepada siswa yang sering mengolok, mereka menyatakan bahwa
yang diolok memang pantas diolok seperti itu. Terdapat pula siswa yang menjawab
dengan tegas bahkan dia bisa sendiri tanpa ada teman-teman, sehingga siswa
tersebut sering menjadi bahan tertawaan dan kekecewaan teman-teman sekelasnya.
Adapun hasil wawancara dengan salah satu guru BK, beliau menyatakan juga
terdapat siswa yang baik nilai akademisnya namun siswa tersebut cenderung
pendiam dan menyendiri yakni dibidang keahlian multimedia pada hasil psikotes
kelas X AP-2 ditemukan rata-rata kemampuan interpersonal siswa sebesar 6,6
termasuk dalam kriteria sedang.
Dengan
demikian, guru BK atau Konselor sangat diharapkan mampu mengembangkan layanan
bimbingan dan konseling komprehensif. Menurut rizkiyah (2017) faktor penting
yang berpengaruh terhadap operasionalisasi PerMenDikbud No 111 Tahun 2014 yang menegaskan
implementasi program bimbingan dan konseling komprehensif adalah pengawasan,
walaupun telah dilakukan sosialisasi dan pelatihan kepada guru BK tetapi bila
tidak ada tindak lanjut monitoring ke sekolah maka tidak akan terealisasi
dengan baik. dari perspektif tersebut,
penulis membahas bagaimana implementasi program bimbingan dan konseling
komprehensif dan analisis pengembangan standart kompetensi siswa.[11]
Penelitian dilakukan
pada tanggal 3 Desember 2012 sampai 8
Januari 2013 di 4 sekolah berbeda. Didalam penelitian ini terdapat 2 pedoman
wawancara yaitu, pedoman wawancara untuk konselor dan siswa yang ditunjukkan
memberikan gambaran mengenai program, pelaksanaan, hasil, hambatan, serta
evaluasi dan pelaporan hasil layanan hasil konseling individual. Kedua pedoman
diatas menggunakan aspek yang sama namun dengan pengembangan pernyataan yang
berbeda, dengan maksud untuk trianggulasi data dari wawancara dengan konselor
dan siswa. Mengenai pelaksanaan hasil konseling individual di SMK Negeri
Surabaya Selatan adalah sebagai berikut:
1. Program
konseling individual SMK Negeri Surabaya Selatan
2. Mekanisme
pelaksanaan konseling individual SMK Negeri Surabaya Selatan
3. Hasil
konseling indivual SMK Negeri Surabaya Selatan
4. Hambatan
konseling individual SMK Negeri Surabaya Selatan
5. Mengatasi
hambatan konseling individual SMK Negeri Surabaya Selatan
5. MAN 2 TULUNGAGUNG
Hasil dan
pembahasan Man 2 Tulungagung dalam peyusunan kurikulum bimbingan
dan konseling (curiculum guindace), konselor dibantu guru bidang studi
dalam hal assesment. Bantuan yang dilakukan merupakan bentuk kerjasama
yang baik, dimana guru bidang studi atau wali kelas, kepala sekolah, pegawai
administrasi juga merupakan petugas bimbingan yang mana juga
memiliki andil dalam kesuksesan program bimbingan dan konseling. Oleh
karenanya, antara pemangku kebijakan di sekolah, guru, beserta staf-stafnya
perlu menyadari dan memahami bahwa masing-masing dari bagian yang ada di
sekolah juga merupakan petugas bimbingan.
Temuan di
lapangan menunjukkan bahwa bentuk kerjasama yang dilakukan antara konselor dan
guru wali kelas/ guru mata pelajaran dalam hal layanan responsif, dimana guru
wali kelas dan guru bidang studi mencoba menyelesaikan permasalahan anak, akan
tetapi karena dirasa tidak efektif maka dilakukan referal kepada konselor.
Fungsi bimbingan dan konseling seperti mediasi, fasilitasi, advokasi,
penyembuhan dikerjakan secara bersama-sama antara konselor dan guru wali kelas/
bidang studi, demi memfasilitasi perkembangan peserta didik. Selain itu, temuan
di MAN 2 Tulungagung menunjukkan kerjasama yang dilakukan guru bimbingan dan
konseling (konselor) tidak hanya bersifat internal (di dalam sekolah), akan
tetapi juga eksternal seperti (Orangtua, Kepolisian, BNN, Kesehatan, Balai
Kerja, Perusahaan, Perguruan Tinggi, dll). Kerjasama yang dilakukan perlu demi
tercapainya potensi optimal peserta didik, karena perkembangan peserta didik
tidak hanya ditunjang oleh sekolah tempat peserta didik tersebut belajar, tapi
juga lingkungan dimana peserta didik tersebut berada. Kerjasama lembaga-lembaga
atau instansi-instansi lain merupakan bentuk dari komitmen sekolah, dimana
permasalahan yang muncul peserta didik saat ini sangatlah kompleks, oleh sebab
itu perlu adanya kerjasama dengan instansi atau lembaga lain di luar sekolah.[13]
C.
PERAN KONSELOR DALAM PEGEMBANGAN KESUKSESAN
BELAJAR DAN KARIER SISWA
1.
Peran Konselor dalam Mengembangkan
Karier Siswa Sekolah Menengah Kejuruhan (SMK) Melalui Kewirausahaan sebagai
Modal di Era MEA”
Masyarakat Ekonomi
ASEAN (MEA) merupakan realisasi pasar bebas di Asia Tenggara yang sebelumnya
telah dibuat Framework Agreement on
Enhancing ASEAN Economic Coorperation pada tahun 1992. Adanya
pasar bebas menimbulkan
peluang sekaligus tantangan bagi negara anggota MEA, sehingga setiap negara
anggota perlu menyiapkan
sumber daya manusia (SDM) yang kreatif, inovatif dan kompetitif supaya mampu
bersaing dengan negara
anggota MEA lainnya. Upaya dalam menyiapkan SDM yang unggul yaitu melalui
pendidikan. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)
merupakan bagian dari sistem pendidikan formal. Tujuan pendidikan menurut
Undang-Undang Sistem
Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 pasal 3 mengenai tujuan pendidikan
nasional dan
penjelasan pasal 15 menyebutkan bahwa pendidikan kejuruan merupakan pendidikan
menengah yang mempersiapkan
peserta didik terutama untuk bekerja di bidang tertentu, sehingga pendidikan
kejuruan sebagai salah satu
bagian dari sistem pendidikan nasional memainkan peran yang sangat strategis
bagi terwujudnya angkatan tenaga
kerja nasional yang terampil dan siap kerja setelah lulus sekolah, namun
faktanya lulusan SMK masih banyak yang belum
mendapatkan pekerjaan.
Menurut Miller
(Utoyo, 1997) untuk menjalankan perannya dalam mengembangkan karier siswa SMK, konselor dapat
menggunakan beberapa strategi/ metode yaitu :[14]
1. Achievement
Motivation Training :
Metode yang digunakan dengan memberikan motivasi
siswa untuk memperoleh kesuksesan
dengan dibantu untuk memahami karakteristik berprestasi tinggi dan bagaimana
siswa mencapainya. Konselor dapat menggunakan
metode ini untuk memotivasi siswa supaya memiliki kepercayaan diri untuk
berwirausaha, baik saat
masih duduk dibangku sekolah maupun setelah lulus sekolah.
2. Assesment
Techniques :
Penggunaan yang terstandar dan teknik pengukuran
yang lain untuk mengukur karakteristik
siswa. Konselor dapat menggunakan tes bakat dan tes minat untuk mengetahui
bakat dan minat siswa,
sehingga konselor mengarahkan siswa untuk berwirausaha tanpa mengesampingkan
kemampuan serta minat
siswa.
3. Behaviour
Modification Techniques :
Metode yang digunakan konselor membantu siswa
untuk mempelajari tingkah
laku yang diinginkan. Misalnya teknik-teknik yang digunakan: reinforcement, behaviour
contracts dan social modeling. Konselor memberikan informasi
mengenai contoh orang-orang yang sudah sukses melalui kewirausahaan, hal ini
bertujuan untuk mendorong siswa supaya yakin bahwa wirausaha juga bisa sukses.
4. Career Days :
Hari-hari tertentu yang dipilih dan ditetapkan untuk melaksanakan
berbagai kegiatan yang berkaitan dengan pengembangan karier. Konselor membuat
program dimana pada hari yang sudah ditentukan
siswa memasarkan produk yang telah dibuatnya sendiri. Kegiatan ini bisa dilakukan di sekolah (bazar) ataupun di luar sekolah. Tujuannya supaya siswa memiliki sifat dan sikap mandiri secara financial.
siswa memasarkan produk yang telah dibuatnya sendiri. Kegiatan ini bisa dilakukan di sekolah (bazar) ataupun di luar sekolah. Tujuannya supaya siswa memiliki sifat dan sikap mandiri secara financial.
5. Creative Experience :
Kreatif adalah kapasitas siswa yang meliputi: sikap ingin tahu,
banyak akal, berdaya cipta, spontan, dan terbuka. Para siswa diberikan
pengalaman untuk mengembangkan kreativitas. Konselor dapat
memanfaatkan keingintahuan siswa untuk memberikan informasi-informasi yang dibutuhkan untuk menunjang karier siswa di masa depan.
memanfaatkan keingintahuan siswa untuk memberikan informasi-informasi yang dibutuhkan untuk menunjang karier siswa di masa depan.
6. Decition Making Training :
Teori perkembangan karier menekankan pentingnya pengambilan
keputusan yang menekankan pada komponen-komponen:
(1) Eksplorasi dan
klasifikasi-klasifikasi nilai-nilai pribadi,
(2) Studi proses yang dapat
dipelajari,
(3) Penggunaan data diri pribadi (self)
dan lingkungan.
Ketiga komponen tersebut dapat menunjang siswa untuk berwirausaha,
misal data lingkungan. Siswa menganalisis lingkungan tempat tinggal mereka dan
memanfaatkan peluang untuk membuka usaha yang cocok di lingkungan sekitar.
Selain lingkungan pasar, siswa dibantu dengan konselor menganalisis peluang
usaha di era MEA. Economic and consumer education. : Program ini
bertujuan: (1) membantu siswa memahami struktur ekonomi masyarakat (Indonesia
maupun ASEAN) dan pengaruhnya pada individu, (2) membantu siswa bahwa mereka
tidak selalu menjadi pekerja, tetapi mereka juga akan menjadi konsumen dan
pelayan yang baik. Konselor memberikan penjelasan bahwa berwirausaha selain
untuk kesejahteraan finansial diri sendiri juga dapat membantu orang lain,
yaitu dengan membuka lapangan pekerjaan kepada mereka yang membutuhkan.
7. Field Trips :
Metode ini merupakan pendekatan bimbingan karier yang diberikan
kepada siswa dengan memberikan kesempatan untuk mengadakan observasi kehidupan
riil terhadap dunia kerja. Konselor bersama guru kewirausahaan mengadakan kunjungan
ke institusi/ lembaga penghasil produk ataupun lembaga penyedia jasa guna
memberikan gambaran nyata kepada siswa kondisi riil di lapangan.
8. Group Guidance And Counseling :
Pemberian dan klasifikasi informasi yang dibutuhkan dalam
perencanaan karier melalui konseling. Layanan bimbingan dan konseling
diperuntukkan bagi semua siswa tanpa pandang bulu. Seyogyanya konselor
memasukkan alternatif berwirausaha dalam perencanaan karier siswa.
9. Individualized Education :
Pendekatan pendidikan para siswa diminta bertanggungjawab untuk
mengatur kegiatan belajarnya sendiri. Peranan konselor/ guru mengorganisir
sumber belajar, motivasi siswa dan memimpin kelompok kecil dalam pengalaman
belajar.
10. Intergroup Education :
Teknik ini menekankan pada sumbangan khusus dan kelompok budaya
yang beraneka ragam, membantu anggota kelompok budaya merasakan, menghargai
dalam anggota kelompok. Pada era MEA, berbagai macam budaya dari berbagai
negara akan masuk ke Indonesia. Oleh karena itu, konselor seyogyanya memberikan
pemahaman mengenai keanekaragaman budaya di Indonesia maupun di negara lainnya.
11. Media :
Media merupakan macam-macam metode informasi komunikasi yang
meliputi tulisan, audio visual. Media digunakan sebagai alat informasi
komunikasi dalam bimbingan. Layanan bimbingan konseling hendaknya tidak hanya
bimbingan klasikal, tetapi konselor dapat memberikan informasi melalui web yang
khusus dibuat untuk memberikan layanan kepada siswa, bukan hanya informasi, tetapi
siswa diijinkan untuk mengeluhkan terkait diri siswa. Selain itu, konselor juga
dapat menggunakan teknik cybercounseling untuk memberikan layanan
konseling kepada siswa.
12. Mobile Service :
Layanan dalam bimbingan karier yang diarahkan pada wahana yang
terkandung dalam diri siswa sendiri. Layanan ini memberikan informasi-informasi
yang dibutuhkan oleh siswa, termasuk peluang untuk menjadi wirausaha di era
MEA.
13. Occupational Information System :
Metode yang terorganisir, meliputi: pengumpulan, penggunaan,
penarikan kembali, dan menginterpretasi informasi-informasi karier. Hampir sama dengan asesmen, metode ini bisa digunakan untuk memberikan pemahaman kepada siswa tentang diri dan lingkungannya.
penarikan kembali, dan menginterpretasi informasi-informasi karier. Hampir sama dengan asesmen, metode ini bisa digunakan untuk memberikan pemahaman kepada siswa tentang diri dan lingkungannya.
14. Placement :
Suatu program yang membantu siswa untuk memilih, melaksanakan dan
keberhasilan masuk pendidikan yang lebih tinggi atau mendapat pekerjaan.
Konselor perlu menambahkan kewirausahaan dalam teknik ini.
15. Prevocational Exploratory Programs :
Program ini bertujuan untuk membantu siswa mengenal dan
memahami hubungan antara sekolah dan dunia kerja. Teori perkembangan karier menunjukkan bahwa para siswa membutuhkan aplikasi pengalaman bimbingan karier dan kesempatan untuk menngungkapkan bermacammacam bidang pekerjaan agar dapat membuat keputusan yang berkaitan dengan karier.
memahami hubungan antara sekolah dan dunia kerja. Teori perkembangan karier menunjukkan bahwa para siswa membutuhkan aplikasi pengalaman bimbingan karier dan kesempatan untuk menngungkapkan bermacammacam bidang pekerjaan agar dapat membuat keputusan yang berkaitan dengan karier.
16. Role Playing :
Suatu pendekatan dalam bimbingan karier yang memberikan kesempatan
kepada siswa memahami perilaku orang lain, daripada dirinya sendiri, dan
berperilaku dengan suatu cara yang konsisten
sebagaimana persepsinya dalam suatu peranan tertentu.
sebagaimana persepsinya dalam suatu peranan tertentu.
17. Simulation :
Suatu teknik dalam bimbingan karier yang memberikan kesempatan
siswa untuk berpartisispasi dalam situasi paralel dengan situasi kehidupan yang
nyata. Konselor dapat mengangkat permainan rakyat “pasaran” untuk
mensimulasikan bagaimana sistem perdagangan pasar bebas di era MEA.
18. Social Modeling :
Para siswa diberi kesempatan untuk mempelajari sikap-sikap dan
perilaku yang baru dengan mengobservasi orang-orang yang dikagumi dan
mencontohkan sikap dan perilakunya.
19. Value Clarification :
Suatu pendekatan pendidikan yang membantu para siswa dalam proses
menguji dan mengklarifikasi atau menjernihkan nilai-nilai pribadinya. Hambatan
yang mungkin dialami konselor dalam meyakinkan siswa untuk berwirausaha adalah mindset
iswa disertai penguatan dari
orangtua yang lebih mempercayakan anaknya menjadi pegawai ketimbang
berwirausaha. Dalam hal ini konselor berusaha untuk menjernihkan nilai-nilai
pikiran siswa mengenai wirausaha. Konselor memberikan gambaran yang jelas
mengenai kelebihan dan kelemahan dalam berwirausaha.
20. Work Experience Programs :
Suatu program yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk
menggabungkan studi di kelas dengan pengalaman kerja dalam kehidupannya atau dalam situasi kerja yang aktual. SMK memiliki program PRAKERIN untuk memberikan pengalaman kepada siswa dalam bekerja secara nyata. Selain PRAKERIN, guru kewirausahaan dapat mengusulkan sebuah program untuk mengaplikasikan pembelajaran kewirausahaan dalam kehidupan sehari-hari siswa secara nyata dan bukan hanya teori, sedangkan konselor juga ikut memantau bagaimana perkembangan siswa dalam menjalani kegaitan wirausaha.
menggabungkan studi di kelas dengan pengalaman kerja dalam kehidupannya atau dalam situasi kerja yang aktual. SMK memiliki program PRAKERIN untuk memberikan pengalaman kepada siswa dalam bekerja secara nyata. Selain PRAKERIN, guru kewirausahaan dapat mengusulkan sebuah program untuk mengaplikasikan pembelajaran kewirausahaan dalam kehidupan sehari-hari siswa secara nyata dan bukan hanya teori, sedangkan konselor juga ikut memantau bagaimana perkembangan siswa dalam menjalani kegaitan wirausaha.
21. Resource person :
Pemberian informasi tentang karier dapat pula dilakukan dengan
mendatangkan orangorang sumber untuk memberikan ceramah mengenai pekerjaan
tertentu. Penting sekali untuk memberikan bukti nyata, dalam hal ini yaitu
bukti nyata kesuksesan seorang wirausaha dalam menjalani bisnisnya. Konselor mendatangkan
orang-orang yang sukses dalam berwirausaha, mereka diminta untuk menceritakan
bagaimana cara menjalankan kegiatan wirausaha mulai dari nol sampai mereka
sukses seperti sekarang.
Beberapa strategi/ metode di atas terselip peran konselor dan
peran guru mata pelajaran dalam mendukung siswa untuk berwirausaha.
Berwirausaha memerlukan komitmen dan kemauan yang kuat untuk berkarya dalam
menghasilkan produk dan memberikan jasa pelayanan yang berkualitas dengan
semangat kemandirian, kemauan memecahkan masalah dan membuat keputusan secara
sistematis, termasuk keberanian mengambil resiko usaha, kemauan berpikir dan
bertindak secara kreatif dan inovatif, kemauan bekerja secara teliti, tekun dan
produktif, kemauan berkarya dalam kebersamaan berlandaskan etika bisnis yang
sehat.
2.
Peran Guru Bimbingan dan Konseling dalam Meningkatkan
Kesuksesan Belajar Siswa
Dalam jurnal EDUKASI Volume 3
Nomor 1 tahun 2017 karya Mahdi dengan judul “Peran Guru Bimbingan dan
Konseling dalam Meningkatkan Kesuksesan Belajar Siswa di SMA Negeri 1 Depok
Sleman Yogyakarta” Keterlibatan atau peran guru BK dalam meningkatkan kesuksesan belajar
siswa di sekolah yaitu melalui program bimbingan klasikal, yaitu diberikan
materi berupa cara meningkatkan percaya diri, saya dan cita- cita, kiat- kiat
menjadi orang kreatif, mengatasi jenuh,bosan&mengantuk saat belajar,
pemilihan karir sesuai potensi, meningkatkan konsentrasi belajar, dan tips
memulai hari yang cerah. Kemudian program bimbingan konseling karir, berupa
pemberian materi informasi peminatan, pemantapan pilihan jurusan, Bimbingan
Kelanjutan Studi, Bimbingan Khusus Menghadapi UAN-UM-masuk Perguruan Tinggi,
Pendampingan siswa untuk mendapatkan PTN/PTS, Carier- Day, Tes Masuk PTS
Terakreditasi, dan Pengenalan Dunia Kampus. Selain itu program lain yang
diberikan pada siswa adalah bimbingan dan konseling pribadi, bimbingan dan
konseling sosial, dan bimbingan dan konseling belajar.[15]
Berbagai
kegiatan pendukung di SMA Negeri 1 Depok Sleman Yogyakarta yaitu sebagai
berikut :
1.
Program Intensifikasi yaitu program berupa tambahan jam
pelajaran untuk kelas 12 sebelum dan sesudah kegiatan belajar mengajar (KBM).
Program ini dilaksanakan setelah jam pelajaran selesai yang mirip dengan
program les tambahan.
2.
Program belajar tambahan untuk kelas 10 dan 11 untuk
menghadapi Ujian Akhir Semester agar prestasi belajar siswa memuaskan.
3.
Program intensifikasi
berisi materi Ujian Akhir Nasional dan Persiapan masuk keperguruan tinggi bagi
kelas 12 yang akan segera lulus.
4.
Pameran pendidikan yaitu mengundang beberapa perguruan tinggi
yang ada di Yogyakarta seperti UGM, UNY, UIN SUKA untuk memberikan gambaran
tentang mata kuliah yang akan dipelajari dari berbagai jurusan yang ada, dan
dipersiapkan sesuai dengan jurusan masing-masing siswa dengan harapan siswa
dapat diterima di Perguruan Tinggi akan akan dimasuki.
5.
Program ekstrakulikuler untuk mengembangkan minat dan bakat
siswa yang terdiri dari cheleeders, tonti, basket,voli, bela diri, batik,
drama, futsal, pramuka, PALA, PMR, silat, paduan suara, PASKIBRAKA.
DAFTAR
PUSTAKA
Dani, Yusrah, Dkk “Studi Kasus Tentang Perilaku Disiplin Siswa Sma
Negeri 1 Kuta Panjang”, Jurnal Ilmiah Mahasiswa Bimbingan dan Konseling Volume
3 Nomor 3 tahun 2018.
Galuh Widyarto, Wikan “Kerja Sama Antara Konselor
Dengan Guru Bidang Studi”, Nusantara Ofresearch,
volume 04, nomer 02, Oktober 2017.
Istiqomah, Nanda “Peran Konselor dalam Mengembangkan Karier Siswa
Sekolah Menengah Kejuruhan (SMK) Melalui Kewirausahaan sebagai Modal di Era MEA”,
S E M I N A R A S E A N 2nd PSYCHOLOGY & HUMANITY, Psychology Forum UMM,
19 – 20 Februari 2016.
Kamaruzzaman,
“Analisis Faktor Penghambat Kinerja Guru Bimbingan Dan Konseling Sekolah
Menengah Atas”, SOSIAL HORIZON: Jurnal
Pendidikan Sosial Vol. 3, No. 2, 2016.
Khofifah,
Aulia, Dkk “Permasalahan yang Disampaikan Siswa Kepada Guru BK/Konselor”, Jurnal
EDUCATIO Volume 3 Nomor 1, 2017.
Krisnawati, Erna “Penerapan Bimbingan Kelompok Teknik Group Exercise
Untuk Meningkatkan Hubungan Interpersonal Siswa Kelas X Program Keahlian
Akomodasi Perhotelan di SMKN 1 Surabaya”, volume 02 Tahun 2015.
Mahdi, “Peran Guru Bimbingan dan Konseling dalam Meningkatkan Kesuksesan Belajar
Siswa di SMA Negeri 1 Depok Sleman Yogyakarta”, Jurnal EDUKASI Vol. 3, No. 1, 2017
Muh Farozin, dkk “Identifikasi Permasalahan
Perancangan Program Bimbingan Dan Konseling Pada Guru Smk Di Kota Yogyakarta”, Jurnal
Penelitian Ilmu Pendidikan Volume
10 nomor 1, 2017.
Nur Fajrini, Ashriani ”Studi
Pelaksanaan Kongseling Individual di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri Surabaya Selatan” Volume 01 Tahun 2015.
Purwaningrum,
Ribut “Bimbingan
Dan Konseling Komprehensif Sebagai
Pelayanan Prima Konselor”, Jurnal Ilmiah Konseling , BK FKIP UTP, Vol 18
(1), Januari 2018.
Purwatib,
“Efektifitas Layanan Bimbingan dan Konseling Untuk
Mengatasi Masalah Menyontek dan Pengaruhnya terhadap Prestasi Belajar Siswa SMA
Negeri 11 Ambon”, Jurnal Bimbingan dan
Konseling Terapan, Volume 02 Number
01, 2018.
Putra Bhakti, Caraka ”Program Bimbingan dan Konseling Komperehensif” Jurnal
Konseling Andi Matappa,volume,1, nomer,1,Februari 2017.
[1]Kamaruzzaman,
“Analisis Faktor Penghambat Kinerja Guru Bimbingan Dan Konseling Sekolah
Menengah Atas”, SOSIAL HORIZON: Jurnal
Pendidikan Sosial Vol. 3, No. 2, 2016, hlm. 232.
[2]Ibid.,
240.
[3]Muh
Farozin, dkk “Identifikasi Permasalahan Perancangan Program Bimbingan Dan
Konseling Pada Guru Smk Di Kota Yogyakarta”, Jurnal Penelitian Ilmu
Pendidikan Volume 10 nomor 1, 2017, hlm. 51.
[4] Aulia
Khofifah, Afrizal Sano&Yarmis Syukur, “Permasalahan yang Disampaikan Siswa
Kepada Guru BK/Konselor”, Jurnal EDUCATIO Volume 3 Nomor 1, 2017, hlm.
46.
[5]Yusrah Dani, Nur Janah, &Hetti Zuliani, “Studi Kasus Tentang
Perilaku Disiplin Siswa Sma Negeri 1 Kuta Panjang”, Jurnal Ilmiah Mahasiswa
Bimbingan dan Konseling
Volume 3 Nomor 3 tahun 2018, hlm.15.
Volume 3 Nomor 3 tahun 2018, hlm.15.
[6] Ibid,.
[7]
Purwatib, “Efektifitas Layanan Bimbingan dan
Konseling Untuk Mengatasi Masalah Menyontek dan Pengaruhnya terhadap Prestasi
Belajar Siswa SMA Negeri 11 Ambon”, Jurnal
Bimbingan dan Konseling Terapan, Volume 02 Number 01, 2018, hlm.41-42.
[8] Ribut
Purwaningrum, “Bimbingan Dan Konseling Komprehensif
Sebagai Pelayanan
Prima Konselor”, Jurnal Ilmiah Konseling , BK FKIP UTP, VoL18 (1), Januari 2018,hlm. 22.
Prima Konselor”, Jurnal Ilmiah Konseling , BK FKIP UTP, VoL18 (1), Januari 2018,hlm. 22.
[9]
Purwatib, “Efektifitas Layanan Bimbingan dan
Konseling Untuk Mengatasi Masalah Menyontek dan Pengaruhnya terhadap Prestasi
Belajar Siswa SMA Negeri 11 Ambon”, Jurnal
Bimbingan dan Konseling Terapan, Volume 02 Number 01, 2018, hlm.41-42.
[10]Erna Krisnawati, “Penerapan Bimbingan Kelompok
Teknik Group Exercise Untuk Meningkatkan Hubungan Interpersonal
Siswa Kelas X Program Keahlian Akomodasi Perhotelan di SMKN 1 Surabaya”, volume 02 Tahun 2015. Hlm.2.
[11]Caraka Putra Bhakti, ”Program Bimbingan dan Konseling
Komperehensif”, Jurnal Konseling Andi
Matappa,volume,1, nomer,1,februari 2017, hlm 131-141.
[12]Ashriani Nur Fajrini, ”Studi Pelaksanaan
Kongseling Individual di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri Surabaya
Selatan” Volume 01Tahun 2015, hlm 07.
[13]Wikan Galuh Widyarto, “Kerja Sama Antara Konselor
Dengan Guru Bidang Studi”, Nusantara Ofresearch,
volume 04, nomer 02, Oktober 2017. hlm 101.
[14] Nanda Istiqomah, “Peran Konselor dalam Mengembangkan Karier
Siswa Sekolah Menengah Kejuruhan (SMK) Melalui Kewirausahaan sebagai Modal di Era
MEA”, S E M I N A R A S E A N
2nd PSYCHOLOGY & HUMANITY, Psychology Forum UMM, 19 – 20 Februari 2016.
2nd PSYCHOLOGY & HUMANITY, Psychology Forum UMM, 19 – 20 Februari 2016.
[15]
Mahdi, “Peran Guru
Bimbingan dan Konseling dalam Meningkatkan Kesuksesan Belajar Siswa di SMA
Negeri 1 Depok Sleman Yogyakarta”, Jurnal
EDUKASI Vol. 3, No. 1, 2017., 12-13.








0 komentar